PEMELIHARAAN BENIH KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN RASIO PAKAN BERBEDA DALAM SISTEM RESIRKULASI
Abstract: Kadar protein dan
rasio pemberian pakan pelet memberikan pengaruh secara langsung terhadap
kualitas media pemeliharaan sehingga perlu dilakukan pengamatan secara detail
untuk meminimalisir dampak negatif terhadap pertumbuhan dan sintasannya. Sistem
resirkulasi pada prinsipnya adalah memanfaatkan volume air dengan jumlah
tertentu dengan menggunakan sistem filter untuk menjaga kondisi air tetap baik
dari sisa pakan dan buangan feses ikan. Rasio pakan yang sesuai diharapkan
mampu memberikan pertumbuhan ideal dan efisien, serta meminimalisir pencemaran.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara rasio pemberian pakan
dengan kadar protein pakan 40% terhadap degradasi kualitas air . Dalam percobaan
ini benih ikan kerapu macan berjumlah masing masing 10 ekor ukuran ± 20 g
ditempatkan dalam bak pemeliharaan 100 L, dilengkapi dengan tandon filter 30 L,
menggunakan busa sebagai filter dan pompa sebagai penyedot dan blower sebagai
pendorong air inlet. Pakan yang diberikan memiliki kadar protein 40% dan
perlakuan dalam penelitian ini adalah rasio pemberiannya: (A) pemberian pakan
sampai kenyang, (B) diturunkan 15% dari pemberian pakan sampai kenyang, dan (C)
diturunkan 30% dari pemberian pakan sampai kenyang. Sehingga rasio pemberian
pakan menjadi 3%-1,5% dari biomassa ikan. Waktu yang digunakan untuk observasi
ini tidak dibatasi, dengan asumsi dengan kadar protein sebesar 40% belum
diketahui seberapa lama model sirkulasi dapat memberikan efek terhadap kualitas
air dan kondisi ikan. Pengukuran kualitas air berupa NH3, NO2, DO, pH, total
suspended solid, suhu, dan total bakteri dilakukan berkala untuk mengetahui
perubahan secara time series. Parameter pertumbuhan diamati setiap minggu dan
SR pada awal dan akhir penelitian. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pakan
dengan protein 40% yang diberikan sampai kenyang dalam media resirkulasi
meningkatkan konsentrasi amonia dan nitrit secara signifikan masing masing
sampai dengan nilai 13,04 mg/L dan 15,26 mg/L pada perlakuan pemberian
sekenyangnya dari kondisi normal diawal penelitian. Selain itu, konsentrasi TSS
pada perlakuan sekenyangnya terdeteksi juga tinggi yaitu pada nilai 0,068 mg/L
saat ikan sudah tidak mau makan. Pada saat ikan tidak mau makan total bakteri
terdeteksi sampai dengan 8,7 x 104 cfu pada perlakuan rasio pemberian
sekenyangnya. Konsentrasi oksigen terlarut (DO), suhu, dan pH masing masing
berfluktuasi dari 7,0-7,9 mg/L; 27°C-28,9°C dan 7,06-8,59 dan tidak terlalu
berbeda dengan kondisi awal. Dalam kondisi sistem resirkulasi seperti ini ikan
memanfaatkan energi lebih banyak untuk bertahan hidup daripada untuk tumbuh.
Perlakuan dengan rasio pemberian pakan diturunkan 30% dari sekenyangnya lebih
efisien dan lebih tahan dalam sistem resirkulasi. Hal ini terlihat dari SR
masih 100% dan mampu tumbuh 1,01 ± 1,84 g sedangkan perlakuan lainnya tertekan
sampai minus. Hasil lain dari penelitian ini diketahui benih kerapu macan masih
bisa bertahan pada kadar amonia sampai dengan 8 mg/L dan nitrit sampai dengan
6,8 mg/L pada sistem resirkulasi.
Keywords: rasio pakan; kerapu
macan; resirkulasi; kualitas air
Penulis: Wawan Andriyanto,
Muhammad Marzuqi, Ni Wayan Widyastuti
Kode Jurnal: jpperikanandd150708