PROFIL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMP DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
Abstrak: Pemecahan masalah
diperlukan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam membangun ide-ide dan
menerapkan konsep serta keterampilan yang telah dipelajari. Dalam memecahkan
masalah matematika diperlukan sikap tekun dan pantang menyerah karena siswa
akan cepat putus asa ketika mengalami kesulitan. Siswa memerlukan motivasi
untuk mengatasi keputusasaan. Dari sinilah Adversity Quotient (AQ) memiliki
peran penting dalam memecahkan permasalahan matematika. AQ merupakan kecerdasan
yang dimiliki seseorang dalam mengatasi kesulitan atau kecerdasan dalam
menghadapi tantangan (daya juang). Stoltz mengelompokkan siswa kedalam tiga
tipe AQ, yaitu climber, camper, dan quitter.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pemecahan masalah
matematika siswa SMP berdasarkan tipe AQ. Indikator pemecahan masalah dalam
penelitian ini adalah menunjukkan pemahaman, menyusun perencanaan, melaksanakan
perencanaan, dan melakukan pemeriksaan kembali. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa
kelas VII-D di SMP Negeri 36 Surabaya tahun ajaran 2015/2016, yaitu satu siswa
climber, camper, dan quitter. Data pada penelitian ini diperoleh melalui tiga
metode yaitu metode pemberian angket, metode tes dan metode wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan profil siswa climber dalam memahami masalah
adalah dengan menyebutkan seluruh informasi dan menjelaskan kembali masalah
menggunakan bahasanya sendiri, kemudian merencanakan langkah pemecahan masalah,
membuat alternatif rencana penyelesaian, menuliskan langkah penyelesaian secara
runtut dan jelas, dan melakukan pemeriksaan kembali. Profil siswa camper dalam
memahami masalah adalah tidak
menyebutkan seluruh informasi dan menjelaskan kembali masalah menggunakan
bahasanya sendiri, kemudian merencanakan langkah pemecahan masalah, tidak
menuliskan langkah penyelesaian secara rinci, dan tidak melakukan pemeriksaan
kembali. Profil siswa quitter dalam memahami masalah adalah tidak menuliskan
informasi secara lengkap dan menjelaskan kembali masalah menggunakan bahasanya
sendiri, kemudian mengalami kesulitan dalam merencanakan langkah penyelesaian
dan kesulitan menuliskan langkah penyelesaian, serta tidak melakukan
pemeriksaan kembali.
Penulis: Ngestiramanda
Prameswari, Dr. Siti Khabibah, M.Pd
Kode Jurnal: jpmatematikadd160212