PROFIL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR MODEL HONEY-MUMFORD
Abstrak: Pemecahan masalah
(problem solving) merupakan aktivitas yang diperlukan dalam proses pembelajaran.
Dalam aktivitas pemecahan masalah, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Satu diantaranya adalah gaya belajar. Peter Honey dan Alan mumford membagi gaya
belajar menjadi empat berdasarkan proses belajar dan pengalaman, yaitu aktivis
(memiliki pengalaman), reflektor (meriviu pengalaman), teoris (berkesimpulan
dari pengalaman), dan pragmatis (merencanakan langkah berikutnya). Penelitian
ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa
SMA yang bergaya belajar aktivis, reflektor, pragmatis, dan teoris. Langkah
pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu langkah pemecahan masalah Polya, yaitu
memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian,
dan memeriksa kembali.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
kualitatif. Subjek penelitian ini adalah empat siswa kelas XI MIA 1 SMAN 8
Surabaya tahun ajaran 2015/2016 yang masing-masing bergaya belajar aktivis,
reflektor, pragmatis, dan teoris yang mempunyai kemampuan matematika setara dan
jenis kelamin sama. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode angket
dengan memberikan angket gaya belajar yang diadopsi dari Learning Style
Questionare (LSQ) yang dikembangkan oleh
Honey&Mumford, metode tes dan metode wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap memahami masalah, siswa
aktivis membaca soal sebanyak satu kali, siswa reflektor sebanyak lima kali,
siswa pragmatis dan teoris sebanyak lebih dari tiga kali. Mereka dapat menyebutkan informasi yang diketahui dan
ditanyakan pada soal, membuat gambar sesuai dengan soal yang diberikan, serta
mereka dapat menceritakan kembali masalah yang diberikan dengan menggunakan
kata-kata sendiri, kecuali siswa pragmatis. Pada tahap menyusun rencana
penyelesaian, siswa aktivis Menentukan rumus yang akan dia gunakan untuk
menemukan jawaban yang diminta dengan menggunakan konsep matematika yang telah
dia ketahui sebelumnya, siswa reflektor merencanakan beberapa rumus yang dia
peroleh dari pengalamannya saat menyelesaikan masalah yang mirip dengan masalah
yang diperolehnya saat ini, siswa pragmatis dalam merencanakan rumus yang akan
digunakan perlu mencari soal lain yang dapat membantunya untuk menemukan rumus
yang akan digunakan, sedangkan siswa teoris merencanakan rumus yang akan
digunakan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan kata kunci pada informasi
yang telah diketahui. Pada tahap melaksanakan rencana penyelesaian, siswa
aktivis melaksanakan rencana penyelesaian dengan cara membagi ke dalam beberapa
sub-masalah, memecahkan masing-masing sub-masalah tersebut, dan menyelesaikan
masalah dengan langkah penyelesaian yang singkat. Untuk siswa reflektor
melaksanakan rencana sesuai dengan rumus yang telah dipilih pada tahap meyusun
rencana, siswa pragmatis menggunakan lebih dari satu rumus dalam menemukan
jawaban yang diminta. Sedangkan siswa teoris melaksanakan rencana penyelesaian
sesuai dengan rumus yang telah direncanakannya, menambahkan konsep matematika
lain, menyelesaikan masalah dengan langkah-langkah yang sistematis dan mudah
dipahami.Pada tahap memeriksa kembali, siswa aktivis memeriksanya dengan cara
mensubtitusi jawaban yang diperolehnya kedalam informasi yang diketahui. Siswa
pragmatis melakukan pengecekan ulang pada setiap langkah yang dilakukan,
sedangkan siswa teoris memberikan argument mengapa cara tersebut dipilih
(elaboration).
Penulis: Siti Zubaidah
Purwaning Arum
Kode Jurnal: jpmatematikadd160192