REKONSILIASI ISLAM DAN DEMOKRASI: NARASI POLITIK BENAZIR BHUTTO
Abstrak: Pakistan, sejak
kemerdekaannya, terdapat perbedaan pendapat dikalangan kaum muslim Pakistan
yang terdiri dari kelompok sekular, moderat dan Islamis tentang bagaimana
implementasi Islam politik di Pakistan, sehingga menimbulkan kemelut kekuasaan
yang berkepanjangan hingga kini. Ditengah kemelut politik Pakistan yang tidak
berkesudahan tersebut lahirlah politisi dan pemikir perempuan Pakistan, yakni
Benazir Bhutto. Tulisan ini akan memfokuskan kajian pada pemikiran Benazir
Bhutto tentang rekonsiliasi Islam dan demokrasi di Pakistan. Berdasarkan hasil
kajian, terdapat beberapa temuan, yaitu: Pertama, Benazir dengan pemikirannya
yang termasuk kategori substantivistik dan tergolong bertentangan dengan
mayoritas muslim Pakistan (tradisionalis dan fundamentalis) ini, gagasannya
selaras dengan eksistensi, artikulasi, dan manifestasi nilai-nilai Islam yang
instrinsik dalam iklim demokrasi modern. Kedua, gagasan Benazir merupakan
counter wacana terhadap pemikiran yang mengidealkan bahwa Islam harus menjadi dasar
negara. Pemikiran Benazir ini selaras dengan paradigma yang melihat bahwa Islam
tidak meletakkan suatu pola baku tentang teori sistem politik yang harus
diselenggarakan oleh umatnya, kecuali nilai-nilai dan prinsip-prinsip etisnya.
Penulis: Lukman Santoso
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd160187