Karakteristik Organoleptik Formulasi Biskuit Berbasis Tepung Labu Kuning (Cucurbita moschata), Tepung Kacang Koro (Mucuna prurien), dan Tepung Sagu (Metroxilon sago)
Abstract: Riskesdas (2013)
menunjukkan bahwa prevalensi status gizi anak balita di Provinsi Aceh
berdasarkan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB diatas prevalensi nasional, yaitu
berturut-turut 25%, 40% dan 15%. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
mengurangi masalah gizi adalah pemberian makanan tambahan pada anak balita. Pengembangan produk biskuit dari bahan pangan
lokal dapat dijadikan salah satu alternatif makanan tambahan untuk meningkatkan
status gizi anak balita. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
karakteristik organoleptik formulasi biskuit berbasis pangan lokal dari tepung
labu kuning (Cucurbita moschata), tepung kacang koro (Mucuna prurient) dan
tepung sagu (Metroxilon sago). Desain penelitian yang digunakan adalah
rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu kombinasi penggunaan
tepung labu kuning, kacang koro dan sagu dalam formulasi biskuit. Pengujian
sifat organoleptik metode hedonik merupakan parameter yang digunakan untuk
menentukan formulasi biskuit yang paling disukai. Panelis yang digunakan adalah
panelis semi terlatih sebanyak 30 orang. Hasil analisis sidik ragam ketiga
formulasi biskuit terhadap parameter warna dan rasa biskuit menunjukkan hasil
berbeda nyata pada selang kepercayaan 95% (α = 0,05), sedangkan untuk parameter
aroma dan tekstur tidak memberikan hasil yang berbeda nyata. Berdasarkan
karakteristik organoleptik, formulasi biskuit yang lebih disukai oleh panelis
adalah biskuit dengan kombinasi tepung labu kuning 20 gram, tepung kacang koro
10 gram dan tepung sagu 20 gram.
Penulis: Rachma Wati, Rosi
Novita, Ampera Miko
Kode Jurnal: jpkesmasdd160158