PENERAPAN KONSEP FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) DALAM PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA
Abstrak: Upaya yang dilakukan
untuk menjamin kualitas produk adalah dengan mencegah dan mengeliminir
kegagalan produk yang memerlukan analisa kegagalan. Untuk mengetahui,
menganalisa dan mengatasi variasi produk yang terjadi, dapat digunakan suatu
metode pengendalian kualitas yaitu Six Sigmamelalui tahapan DMAIC (Define,
Measure, Analyze, Improve dan Control).
Untuk mengidentifikasi potensi, penyebab serta efek kegagalan yang
terjadi. Untuk tindakan ini, dapat digunakan konsep FMEA (Failure mode and
effect analysis) yang mempunyai banyak aplikasi dalam lingkungan Six Sigma
dalam hal mencari berbagai masalah kegagalan sehingga pemberian prioritas
rencana tindakan perbaikan dapat dilakukan dengan melihat nilai RPN (Risk
Priority Number) kejadian gagal yang
teridentifikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan nilai Defect Per
Million Opportunities (DPMO) dan tingkat sigma, menentukan nilai RPN dan
memberikan rencana tindakan perbaikan. Penelitian ini mengikuti langkah-langkah
dari six sigma yaitu DMAIC dimana penentuan RPN dengan metode FMEA dilakukan pada
tahap improve. Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat diperoleh bahwa nilai
DPMO proses HRC adalah sebesar 677,73 dengan tingkat sigma sebesar 4,70. Hal
ini dijadikan performance baseline perusahaan untuk melakukan perbaikan
kualitas HRC. Hasil identifikasi CTQ dominan dapat diketahui bahwa CTQ yang
sering terjadi adalah jenis rollmark. Oleh karena itu, untuk saat ini rollmark
menjadi prioritas perbaikan. Analisis penyebab rollmark dengan FMEA diperoleh
mode kegagalan suhu mesin diatas standard dan kinerja mesin menurun menjadi
rencana tindakan perbaikan prioritas karena memiliki nilai RPN tertinggi yaitu
150.
Penulis: Wahyu Oktri Widyarto,
Gerry Anugrah Dwiputra, Yitno Kristiantoro
Kode Jurnal: jptindustridd150447