HASIL DAN STABILITAS HASIL BIJI KEDELAI {Glycine max (L.) Merr.} GALUR HARAPAN DI LAHAN SAWAH

ABSTRAK: Kedelai  {Glycine  max  (L.)  Merr.}  yang  memiliki  produktivitas  hasil  konsisten  tinggi  di  berbagai  lingkungan  diharapkan   mampu mempertahankan tingkat produksi kedelai per satuan luas. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan (G x L) dan menilai stabilitas galur-galur harapan kedelai di berbagai lingkungan. Bahan penelitian adalah delapan galur harapan  kedelai  (G100H/SHRW-60-38;  SHRW-60/G100H-73;  SHRW-60/G100H-68;  SHRW-60/G100H-66;  G100H/SHRW-34;  SHRW-60/G100H-5;  SHRW-60/G100H-70;  dan  SHRW-60/G  100  H-75)  dan  dua  varietas  pembanding  (Kaba  dan  Wilis).  Penelitian  dilakukan tahun  2009-2011  di  16  lokasi  (Lampung  Tengah,  Yogyakarta,  Ngawi,  Mojokerto,  Pasuruan,  Malang,  Banyuwangi  dan  Lombok  Barat, masing-masing dua lokasi). Penelitian di setiap lokasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok, diulang empat kali. Hasil biji galur-galur kedelai dianalisis menggunakan model AMMI (Additive Main Effects and Multiplicative Interaction). Kurva biplot antara komponen utama 1 (IPCA1) dengan komponen utama 2 (IPCA2) digunakanuntuk menilai stabilitas hasil. Kisaran hasil biji10 galur adalah 2,63 t/ha hingga 3,02 t/ha, dengan rata-rata hasil biji 2,81 t/ha. Hasil biji tertinggi ditemukan pada galur G6 (SHRW-60/G100H-5), dan terendah pada galur G3 (SHRW-60/G100H-68). Hasil analisis gabung memperlihatkan bahwa lokasi, galur, dan interaksi galur dengan lokasi (GxL) berbeda sangat nyata untuk hasil biji. Penguraian interaksiGxL menggunakan metode AMMI menyatakan bahwa komponen utama IPCA1, IPCA2, IPCA3 dan IPCA4 adalah nyata dan berkonstribusi sebesar 85,1% terhadap jumlah kuadrat total dari interaksi G ×  L.  Galur dinyatakan stabil apabila koordinatnya disekitar atau pada pusat kurva. Galur G100H/SHRW-60-38 (G1), galur SHRW-60/G100H-66 (G4) dan galur SHRW-60/G100H-5 (G6) teridentifikasi sebagai galur yang stabil dan sekaligus berdaya hasil tinggi sehingga dapat diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul baru. Hasil dari penelitianini juga menunjukkan bahwa varietas pembanding Kaba (G9) maupun Wilis (G10) sesuai digunakan sebagai varietas pembanding spesifik, dikarenakan berkategori beradaptasi spesifik lokasi.
Kata kunci: Kedelai {Glycine max (L.) Merr.}, interaksi G × L, stabilitas hasil
Penulis: Ayda Krisnawati, M Muchlish Adie dan GWA Susanto
Kode Jurnal: jpbiologidd130684

Artikel Terkait :