REKONSTRUKSI HUKUM ISLAM DAN IMPLIKASI SOSIAL BUDAYA PASCA REFORMASI DI INDONESIA

Abstrak: Nabi  Muhammad  tidak  sepenuhnya  memusnahkan  tradisi  Arab  pra-Islam. Bahkan, Nabi Muhammad banyak menciptakan aturan-aturan yang melegalkan hukum  adat  masyarakat  Arab,  sehingga  memberi  tempat  bagi  praktik  hukum adat  di  dalam  sistem  hukum  Islam.  Signifikansi  peran  budaya  dalam  hukum Islam  kemudian  diteruskan  oleh  para  penerusnya.  Dengan  demikian,  budaya memiliki posisi yang penting dalam sejarah hukum Islam. Ini  juga membuktikan bahwa budaya yang berkembang dalam masyarakat tidak harus tunduk dalam ekspresi  hukum  Islam (corak  Arab),  melainkan hukum  Islam  harus  melakukan proses  mutasi  untuk  beradaptasi  di  bawah  naungan  budaya  yang  hidup  di masyarakat  sepanjang  budaya  tersebut  tidak  bertentangan  dengan  ajaran fundamental  dan  spirit  Islam.  Dalam  konteks  Indonesia,  paling  tidak  ada  dua gagasan  penting,  yaitu:  “fikih  Indonesia”  dan  “pribumisasi  Islam”.  Dari  kedua gagasan  ini,  setidaknya  ada  dua  paradigma  penting  dalam  upaya  pribumisasi hukum Islam, yaitu: pertama, kontekstual, hukum Islam dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan dimensi zaman dan tempat. Kedua, menghargai tradisi lokal. Dengan  kedua  paradigma  ini,  maka  pribumisasi  hukum  Islam  akan  menjadi lebih  jelas.  Dengan  demikian,  pasca  reformasi haruslah  menjadi  momen  positif untuk  merekontruksi  budaya  lokal,  bukan  malah  menghancurkannya  dengan pemaksaan  konsep  hukum  yang  tidak  sesuai  dengan  kepribadian  bangsa Indonesia.
Kata kunci: Hukum Islam, sosial budaya, pasca reformasi, pribumisasi Islam
Penulis: Muwahid Shulhan
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd120229

Artikel Terkait :