PROBLEM PRAKTIK KHURÛJ BAGI ANGGOTA JAMA`AH TABLIGH DI MADURA

Abstrak: Khurûj  adalah  salah  satu  ajaran  yang  sangat  melekat  erat dengan  Jama`ah  Tabligh  yang  mewajibkan  setiap  anggotanya untuk pergi ke luar daerah untuk menyiarkan amr al-ma`rûf nahy al-munkar  dalam  waktu  tertentu.  Masalah  utama  adalah  saat kewajiban  khurûj  dihadapkan  dengan  kewajiban  dalam keluarga.  Kewajiban  tersebut  dapat  menimbulkan  masalah  saat anggota  Jama`ah  Tabligh  tidak  dapat  menyeimbangkan kewajiban  untuk  keluarga  dan  kewajiban  khurûj.  Seperti perceraian  pada  salah  satu  keluarga  anggota  Jama`ah  Tabligh. Penyebab  perceraian  adalah  karena  kurangnya  nafkah  saat suami  khurûj,  untuk  menutupi  kekurangan,  isteri  memilih menumpuk  hutang  sampai  tidak  mampu  melunasi.  Melakukan khurûj adalah kegiatan dalam Jama`ah Tabligh, dimana seorang anggota  akan  diakui  sebagai  anggota  resmi  saat  sudah  turut serta dalam melakukan khurûj. Konsep khurûj dalam aplikasinya terbagi menjadi tiga tahap. Pertama, 3 hari dalam sebulan; kedua,  40  hari  dalam  setahun  dan  ketiga,  4  bulan  sekali  seumur  hidup. Namun,  hitungan  dakwah  ini  ditetapkan  tanpa  diketahui menggunakan  dasar  Al-Qur’an  dan  al-Sunnah  yang  jelas, ataupun  manhaj  dakwah  yang  dicontohkan  oleh  Rasulullah. Sedangkan  Jama`ah  Tabligh  dalam  konsep  khurûj-nya menggunakan  ayat  Al-Qur’an sebagai landasan  teoritis.  Yaitu kalimat 'ukhrijat' yang terkandung dalam QS. Ali Imran [3]:110.  
Kata Kunci: Khurûj, Nafkah, Hak dan Kewajiban Suami-istri, amr al-ma`rûf nahy al-munkar
Penulis: Faiqoh Bahjah Lailatus Siyami
Kode Jurnal: jphukumdd150924

Artikel Terkait :