PROBLEM MINORITAS DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

Abstrak: Islam,  lebih  spesifik  lagi,  al-Qur’an  sebagai  sumber  aslinya, tidak  jarang  dijadikan  kambing  hitam  dalam  sejumlah  persoalaan kemanusiaan yang berbau SARA. Tulisan ini ingin melacak paradigma al-Qur’an tentang  hubungan  mayoritas-minoritas  dalam  kehidupan masyarakat yang berlatar heterogen. Dengan hermeneutika humanis, penulis  mengafirmasi  eksistensi  Islam  sebagai  agama  kemanusiaan yang  menjunjung  tinggi  HAM  dan  mengatur  hubungan  minoritas-mayoritas  dalam  bingkai  ummatan wasat}an.  Penulis  menganalisis terma  manusia  dalam  bahasa  al-Qur’an,  yaitu:  al-insa>n,  al-basyar dan  an-na>s  yang  menunjukkan  makna  persamaan  manusia  secara umum,  dan  lebih  lanjut  perlindungan  hak-hak  individu  dan  sosial mereka dalam bingkai rah}matan lil ‘a>lami>n. Menurut penulis, istilah mayoritas-minoritas merupakan hal baru dalam Islam. Dalam konteks keragamaan  masyarakat  beragama,  Islam  mengenalkan  konsep  “Ahl al-Kita>b” tanpa memandang apakah suatu kelompok beragama non-Islam  berada  dalam  posisi  minoritas  atau  mayoritas.  Istilah  Ahl  az\-Z|immah  yang  digunakan  untuk  menyebut  komunitas  non-Muslim dalam  pemerintahan  Islam  juga  tidak  bisa  dipersamakan  dengan minoritas.  Kata  “z\immi”  yang  berarti  yang  dilindungi  memberikan kepastian  terjaminnya  keamanan  serta  keselamatan  mereka;  dan  ini tidak bisa diartikan sebagai “ketidakberdayaan” atau “inferioritas”.
Keywords:  agama  kemanusiaan,  ummatan  wasat}an,  ahl  al-kitab, zimmi
Penulis: Bukhari Abdul Shomad
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd120187

Artikel Terkait :