POLITIK PEMBERLAKUAN SYARI`AT ISLAM DI ACEH DAN KELANTAN (1993-2014)

Abstrak: Pemberlakuan  syari`at  Islam  di  Aceh  dan  Kelantan  memiliki relasi dengan politik kekuasaan. Ada perbedaan yang signifikan tentang  politik    pemberlakuan  syari`at  Islam  di  Aceh  dan Kelantan.  Di  Aceh,  pemerintah  pusat  (Indonesia)  memiliki kehendak politik untuk memberlakukan hukum jinayah sebagai bagian  dari  strategi  untuk  menyelesaikan  konflik.  Kehendak politik  ini  berlangsung  sejak  pemerintahan  negara  RI  dipimpin Presiden  Habibie,  Abdurrahman  Wahid,  Megawati,  hingga Susilo  Bambang  Yudhoyono.  Faktor  utama  yang  memengaruhi kehendak  politik  pemerintahan  negara  RI  ini  adalah  konflik pusat dengan rakyat Aceh sejak masa Presiden Soekarno hingga Perjanjian  Helsinski  2005.  Konflik  vertikal  yang  terjadi  antara Pusat  dengan  rakyat  Aceh  di  antaranya  diselesaikan  dengan memberikan otonomi khusus dalam pelaksanaan syari`at Islam. Bukan  hanya  hukum  keluarga  dan  ekonomi  yang  diberikan kewenangan  untuk  dilaksanakan  di  Aceh,  tetapi  juga kewenangan  melaksanakan  hukum  jinâyah.  Di  Kelantan, Pemerintah  Federal  (Malaysia)  tidak  memiliki  kehendak  politik untuk  memberlakukan  hukum  jinayah  di  Kelantan  sejak  PM Mahathir Muhamad, Abdullah Badawi hingga PM Najib Razak. Pemerintah  Federal  justru  menjadikan  isu  pemberlakuan hukum  jinâyah  sebagai  komoditas  politik  untuk  mendapat simpati  politik  dari  masyarakat  luas,  yaitu  sebagian  pemilih Non-Muslim  yang  menjadi  partner  koalisinya  dalam  Barisan Nasional  dan  sebagian  pemilih  Muslim  yang  tidak  berafiliasi dengan  PAS.  Faktor  kepentingan  politik  inilah  yang  dipelihara Pemerintah  Federal  dalam  merespon  keinginan  Pemerintah Kelantan untuk memberlakukan syari`at Islam. 
Kata Kunci: Kehendak politik, pemberlakuan syari‟at Islam, Aceh, Kelantan
Penulis: Khamami Zada
Kode Jurnal: jphukumdd150919

Artikel Terkait :