PEMBARUAN HUKUM ISLAM MELALUI KONSEP AL-TA’WÎL NASHR HAMID ABU ZAYD

Abstrak: Abu  Zayd  membangun  ulang  konsep  pemahaman  teks  dengan pendekatan linguistik (al-manhaj al-tahlîl al-lughawî) dalam pengertian yang  luas  mencakup  hermeneutika  dan  semiotika.  Bagi  Abu  Zayd, ta’wîl  berbeda  dengan  tafsir.  Ta’wîl  dilihat  oleh  Abu  Zayd  sebagai penafsiran  yang  produktif  dan  objektif  yang  berlawanan  dengan talwin;  penafsiran  tendensius  dan  ideologis  (qirâ'ah  mughridah aydulujiyyah). Implikasi ta’wîl Abu Zayd adalah, pertama, ada sesuatu yang  hilang,  yakni  kesadaran  atas  historisitas  teks-teks  keagamaan, bahwa  ia  adalah  teks  linguistik  dan  bahwa  bahasa  adalah  sebuah produk sosial dan kultural. Kedua, meletakkan teks dalam konteks al-Qur‟an  secara  keseluruhan.  Dengan  melakukan  ini  Abu  Zayd berharap  bahwa  yang  tak  terkatakan  atau  yang  implisit  dapat diungkapkan.  Abu  Zayd  meminjam  distingsi  adil-dhahir  tentang mabda’ (prinsip), qâ’idah (kaidah), hukm (hukum). Keadilan, kebebasan, hak  untuk  hidup  dan  kebahagiaan  termasuk  dalam  kategori  mabda’. Qâ’idah adalah  derivasi  dari  mabda’ itu  dan  tidak  boleh  bertentangan dengannya.  Hukm  tidak  bisa  menjadi  qâ’idah apalagi  menjadi  mabda’. Hukm  adalah  peristiwa  spesifik  dan  relatif.  langkah  ketiga,  Abu  Zayd mengusulkan  pada  sebuah  pembaharuan  hukum  Islam.  Berdasarkan atas distingsi adil dhahir.
Kata Kunci: Ta‟wîl, al-Qur‟an, Hukum Islam, Nashr Hamid Abu Zayd
Penulis: Akh. Syaiful Rijal
Kode Jurnal: jphukumdd150921

Artikel Terkait :