Makna Gaya Hidup Tengah Malam Anak Muda Urban di Branded Convenience Store dan Café 24 Jam
Abstrak: Saat ini menjamur
toko-toko miniswalayan dan kafe cepat saji bermerek (branded convenience store
& café) yang buka 24 jam, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Dengan
fasilitas sambungan internet gratis dan
tempat yang nyaman, tak
ayal, anak-anak muda
pun setiap malam
menyemut begadang menikmati waktu
tengah-malam dengan membawa
‘peralatan’ kerja seperti
laptop atau sekadar berkumpul
mengobrol bersama teman-teman sampai pagi ditemani minuman dan makanan ringan. Gaya
hidup begadang anak
muda urban ini—yang
penulis sebut sebagai
midnight culture, sesungguhnya
bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia, karena aktivitas begadang bersama
kerap dijumpai di kompleks-kompleks pemukiman
dan perkampungan warga.
Namun, setelah media dan merek-merek mereproduksi dan
mengomodifikasinya, midnight
culture menjadi tren
dalam wujud baru. Tulisan ini berusaha menginvestigasi dan menangkap
makna-makna terkait gaya hidup begadang
anak muda urban
di branded café
dan convenience store
24 jam. Menggunakan
metode etnografi kritis, penulis menemukan bahwa begadang bagi anak muda
urban merupakan ekspresi dan aspirasi
insomniak yang berkelindan dengan pleasure sosial, hasrat kesuksesan dan konstruksi
identitas. Wacana personal ini tidak terlepas dari kuasa wacana media dan
sosial yang berkembang di masyarakat, sementara secara ekonomi-politik,
komodifikasi begadang oleh media dan merek memberikan dampak yang signifikan
bagi ‘kelangsungan hidup’ media dan merek (convenience store dan café)
tersebut.
Kata Kunci: Begadang,
midnight culture, anak
muda urban, branded
café 24 jam,
branded convenience store 24 jam
Penulis: Bambang Sukma Wijaya
Kode Jurnal: jpkomunikasidd140506