IMPLIKASI PERDEBATAN TENTANG BASMALAH ATAS KEMUTAWATIRAN AL-QUR`AN

Abstrak: Para ulama sepakat bahwa  pencantuman seluruh ayat dalam mushaf al-Qur`an didasarkan pada riwâyat  yang mutawâtir, sehingga terjamin keasliannya  (qath`î  wurûd  âyi  al-Qur'ân).  Demikian  halnya  pada  lafal basmalah  yang  terdapat  pada  awal  surah.  Oleh  karena  itu,  madzhab Mâlikî  menolak  menetapkan  basmalah  sebagai  ayat  al-Qur`an,  karena adanya  beberapa  riwâyat  ahâd  yang  menginformasikan  dua  hal berbeda,  yaitu  bagian  dari  al-Qur`an  dan  bukan  bagian  darinya. Sesungguhnya,  riwâyat  ahâd  tidak  dapat  digunakan  untuk memasukkan  sebuah  teks  menjadi  ayat  al-Qur`an  atau  juga menolaknya.  Sementara  pandangan  mayoritas  ulama  tidak  hanya didasarkan  pada  beberapa  riwayat  ahâd  yang  menyatakan  bahwa basmalah  merupakan  ayat  al-Qur`an.  Fakta  kesejarahan  pada  proses jam`u  al-Qur'ân  (penghimpunan  al-Qur`an)  sejak  masa  Rasulullah, masa  Khalifah  Abû  Bakr  sampai  pembakuan  al-Qur`an  pada  masa Khalifah  `Utsmân  bin  `Affân  menegaskan  bahwa  para  sahabat  tidak akan  memasukkan  atau  menolak  suatu  ayat,  jika  hanya  didasarkan pada  riwayat  ahâd  meskipun  kualitasnya  shahîh.  Dengan  demikian penetapan  lafal  basmalah  sebagai  ayat  al-Qur`an,  tidak  hanya didasarkan  pada  riwayat  ahâd,  tetapi  didukung  dengan  ijmâ`  sahabat terhadap  keberadaan  Mushhaf  Utsmânî  atau  dikenal  dengan  sebutan sumber periwayatan mutawâtir `amalî.
 Key Words: Mutawâtir, Basmalah, Qath`î al-Wurûd, Zhannî al-Wurûd
Penulis: Moh. Zahid
Kode Jurnal: jphukumdd150927

Artikel Terkait :