ADOPSI DALAM HUKUM ISLAM DAN HUKUM INDONESIA

Abstrak: Tulisan  ini  mengungkap  tentang  prosedur  pengangkatan anak  (adopsi)  menurut  hukum  Islam  dan  status  hukum  anak angkat  yang  berlaku  di  Indonesia.  Dalam  Undang  Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ditentukan bahwa  pengangkatan  anak  tersebut  harus  seagama  dan  tidak memutuskan  hubungan  darah  anak  angkat  dengan  orang  tua kandungnya.  Pengaturan  Peraturan  Pemerintah  Nomor  54 Tahun  2007  tentang  Pelaksanaan  Pengangkatan  Anak  yaitu bahwa  tata  cara  pengangkatan  anak  antar  Warga  Negara Indonesia  bahwa  seorang  dapat  mengangkat  anak  paling banyak  2  (dua)  kali  dengan  jarak  waktu  paling  singkat  2(dua) tahun.  Untuk  sahnya  pengangkatan  anak  di  Indonesia,  setelah permohonan  pengangkatan  anak  melalui  prosedur  dari  aturan dalam  perundang-undangan  yang  ada,  pengangkatan  anak selanjutnya  disahkan  melalui  langkah  terakhir  yaitu  dengan adanya  putusan  pengadilan  yang  dikeluarkan  oleh  pengadilan dengan  bentuk  penetapan  pengadilan  atau  dikenal  dengan putusan deklarator, yaitu pernyataan dari Majelis hakim bahwa anak angkat tersebut adalah sah sebagai anak angkat dari orang tua angkat yang mengajukan permohonan pengangkatan anak. Putusan  pengadilan  juga  mencakup  mengenai  status  hukum dari  anak  angkat  dalam  keluarga.  Konsep  pengangakatan  anak dalam  hukum  Islam  tidak  mengenal  pengangkatan  anak  dalam arti  menjadi  anak  kandung  secara  mutlak,  sedang  yang  ada hanya  diperbolehkan  atau  susruhan  untuk  memelihara  dengan tujuan  memperlakukan  anak  dalam  segi  kecintaan  pemberian nafkah,  pendidikan  atau  pelayanan  dalam  segala  kebutuhan yang  bukan  memperlakukan  sebagai  anak  kandung  (nasab). Dalam  konsep  Islam,  pengangkatan  seorang  anak  tidak  boleh memutus  nasab  antara  si  anak  dengan  orang  tua  kandungnya berdasarkan Alquran Surat Al-Ahzab ayat 4,5,37, dan 40. Hal ini kelak berkaitan dengan akibat hukum yang ditimbulkan yaitu mengenai perkawinan dan system waris. Dalam perkawinan yang menjadi prioritas wali nasab bagi anak perempuan adalah ayah kandungnya sendiri. Dalam waris, anak angkat tidak termasuk ahli  waris  begitu  juga  sebaliknya,  yang  besarnya  adalah  1/3  (sepertiga ) bagian dari harta peninggalan.
Kata kunci: Adopsi, anak, waris, pengadilan, perkawinan
Penulis: Sainul
Kode Jurnal: jphukumdd150889

Artikel Terkait :