PARADIGMA BARU FIQH PEREMPUAN (Studi Analisis atas Gender Mainstreaming Omid Safi dalam Agenda Muslim Progressive)

Abstrak: Omid  Safi  dan  kawan-kawan  dengan  label  Muslim Progressive  mengusung  tiga  agenda  besar,  yakni mewujudkan  keadilan  sosial,  kesetaraan  jender, dan pemahaman  terhadap pluralisme. Dengan  metode    multiple critique,  Omid  Safi  mengkritisi  kejumudan  para  ultra Konservatif yang selalu  menyalahkan  Yahudi,  Kristen,  dan bahkan umat  Muslim  yang tidak sepaham dengan mereka. Demikian pula kritik di sisi ini diarahkan kepada kaum neoKonservatif  yang  menjadikan  teks  begitu  kaku  dan  rigit serta  ditafsirkan apa adanya. Sementara  di sisi lain  Muslim Progressive  juga  mengkritisi  kaum  Muslim  liberal  yang menjadikan  modernitas  sebagai  kiblat  utama  tujuan hidup mereka  dengan  mengenyampingkan  tradisi  keislaman sebagai  landasan  moral  dan  pikiran.  Muslim  Progressive digagas  untuk  mengawinkan  kedua  sisi  tersebut.   Tulisan ini menampilkan tawaran  Muslim Progressive  dalam agenda kesetaraan  jender ,  yang  menekankan  pada  paradigm  baru fiqh   perempuan.  Muslim  Progressive  memaknai  fiqh   sebagai interpretasi  syari’ah.  Dengan  demikian,  fiqh   harus diformulasikan  sesuai  dan  seimbang  dengan  tuntutan zaman. Teks al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan landasan lahirnya  produk  fiqh  tidak  harus  dipahami  sebagaimana fuqahâ`  memahaminya  saat  itu.  Perkembangan  zaman, kebutuhan,  dan tujuan semestinya senantiasa menjadi  ‘ illahyang menyertai perumusan hukum saat ini.
Kata Kunci: Muslim Progressive,  multiple critique,  jender, fiqh
Penulis: Mohammad Thoha
Kode Jurnal: jphukumdd130786

Artikel Terkait :