KEHIDUPAN ANAK PUNK DI KOTA PEKANBARU
ABSTRAK: Punk merupakan
subbudaya yang lahir di London, Inggris.
Punk tersebut memiliki ciri khas dalam hal
penampilan dan perilaku
yang mereka perlihatkan.
Fenomena merebaknya anak punk
telah menjadi masalah
tersendiri bagi pemerintah
kota Pekanbaru. Anak
punk yang selalu merusak
keindahan kota Pekanbaru, anak punk yang mengganggu ketertiban lalu lintas ataupun
anak punk biang keonaran.
Penelitian ini dilakukan
di traffic light(lampu
lalu lintas) yang
menjadi tempat anak
punk melakukan aktivitasnya yakni
persimpangan jalan Tuanku
Tambusai tepatnya di persimpangan Lampu
Merah Mall SKAPekanbaru(Kecamatan Tampan),
Simpang Gramedia(Kecamatan Pekanbaru Kota), Simpang Pasar Pagi
Arengka(Kecamatan Marpoyan Damai)
dan Ramayana di
sekitar Pasar Kodim(Pekanbaru Kota).
Tipe penelitian yang digunakan adalah
bersifat deskrptif, dalam
tekhnik penarikan sampel
digunakan teknik purposive sampling
atau sampel bertujuan
sehingga informan pada
penelitian ini adalah
5 informan dari 4
lokasi berjumlah 20
orang. Teknik pengumpulan
data dengan studi kepustakaan, studi lapangan yaitu :
observasi, wawancara mendalam, kusioner, dokumentasi dan studi data online.
Data-data tersebut dianalisis yang ditinjau dari identitas anak punk dan latar
belakang keluarga.Kemudian data disusun dalam bentuk table tunggal setelah itu
dicari persentasinya lalu dijelaskan secara terperinci.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa anak punk di kota pekanbaru
berasal dari ekonomi keluarga lemah sehingga secara keseluruhan anak punkers
ingin melepaskan diri dari orang tuanya,
meringankan beban orang
tua dan ingin mandiri, anak
punkers ini juga b
ukan merupakan warga pekanbaru asli, dominan adalah warga pendatang dan dapat
pula diketahui bahwa perilaku anak punk yang berada di kota pekanbaru dapat
dilihat dari segi pengetahuan, sikap
serta tindakan. Dari segi
pengetahuan mereka memahami
dan mengetahui ideologiideologi yang
dimiliki punk secara
umum, penerapan ideologi
tersebut dapat dilihat
dalam hal penampilan dan aksesoris yang dipakai serta kegiatan-kegiatan
yang dilakukannya seperti mengamen, berkumpul-kumpul, meminum miras oplosan,
tidur di emperan toko, seks bebas, jalan-jalan
keluar daerah, sablon,
tatto serta menindik.
Sedangkan faktor yang
mendorong keberadaan komunitas punk dapat dilihat dari faktor internal
dan faktor eksternal.
Penulis: RINI ANGGRAINI
Kode Jurnal: jpsosiologidd150458