PERAN DEAF ART COMMUNITY (DAC) YOGYAKARTA DALAM PEMBERDAYAAN ANAK TUNARUNGU MELALUI BIDANG KESENIAN
ABSTRAK: eaf Art
Community Yogyakarta (DAC) merupakan
komunitas yang didirikan
atas pemikiran anak-anak tunarungu
yang ingin mendalami
bidang seni. Pengurus
dan anggota yang bergabung
di DAC adalah
anak-anak tunarungu. Walaupun tunarungumereka mampu
mengadakan berbagai pertunjukkan
seni dan mereka memilikibanyak penghargaan. Hal
tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tunarungu juga dapat berprestasi di bidang
seni. Banyak pertunjukan yang telah dilakukan oleh DAC, hal ini enjadi daya
tarik masyarakat umum.
Hal tersebut karena
DAC mampu melakukan pemberdayaan kepada
anak tunarungu melalui
bidang kesenian sehinga
mereka mampu membuat pertunjukkan
dan pemperoleh berbagai
macam penghargaan. Penelitian
ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui peran yang dilakukan oleh
Deaf Art Community Yogyakarta dalam pemberdayaan anak-anak tunarungu melalui
bidang kesenian. Selain hal tersebut,
peneliti juga ingin
mengetahui tentang faktor
yang dapat menghambat
dan mendorong peran DAC
dalam pemberdayaan terhadap
anak tunarungu. Serta
dampak dari peran yang
telah dilakukan oleh
DAC terhadap anak-anak
tunarungu. Penelitian ini menggunakan
metode kualitatif dengan sumber data berupa kata-kata dan tindakan, sumber tertulis dan
foto atau dokumentasi.
Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah observasi, wawancara,
dokumentasi dan studi
pustaka. Teknik sampling
yang digunakan dalam penelitian
ini adalah teknik
pengambilan data purposive sampling.
Validitas data dalam penelitian
ini menggunakan teknik
triangulasi sumber dan
untuk analisis datanya menggunakan analisis
model interaktif Miles
dan Huberman.Peran Deaf
Art Community(DAC) Yogyakarta dalam pemberdayaan anak tunarungu melalui
bidang kesenian dengan dua cara
yaitu struktural dan
komunikasi. Upaya secara
struktural yaitu dengan embuat programdi bidang kesenian
seperti pentas dan latihan. Sedangkan peran dari sistem komunikasinya yaitu
para pengurus DAC
sering melakukan komunikasi
intensif antar individu maupun
komunikasi kelompok dengan para anggota DAC. Faktor pendorong peran AC berjalan
baik adalah semangat, motivasi, kemauan belajar yang dimiliki oleh anak-anak tunarungu. Sedangkan
faktor penghambatnya adalah rasa malu,
rasa rendah hati
serta rasa percaya diri
yang rendah. Dengan adanyaperan
yang dilakukan oleh
DAC anak-anak tunarungu memiliki
tingkat kreativitas yang tinggi dan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar
dari sebelumnya mereka bergabung dengan DAC.
Penulis: Rani Dewi Octaviani, Nur
Hidayah, M.Si
Kode Jurnal: jpsosiologidd150352