ANALISIS FAKTOR INTEGRATIF NYAMA BALI-NYAMA SELAM, UNTUK MENYUSUN BUKU PANDUAN KERUKUNAN MASYARAKAT DI ERA OTONOMI DAERAH
Abstract: Penelitian ini
bertujuan untuk (1) memahami latar belakang sejarah Enclave Nyama Bali–Nyama
Selam di Bali; (2) menganalisis faktor integratif Enclave Nyama Bali-Nyama
Selam, untuk mengembangkan kerukunan antarumat beragama di Bali; (3)
mendapatkan materi penenulisan Model Buku Panduan integrasi sosial pada Enclave
Nyama Selam-Nyama Bali di Era Otonomi Daerah. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian ilmu sosial dengan pendekatan sejarah sosial. Dengan demikian
prosedur penelitian ini mengikuti prosedur ilmu sosial (etnografi koneksitas
antar situs), dari penentuan informan, pengumpulan data sampai analisis
data, dengan teknik analisis deskriptif
kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan. latar belakang sejarah kearifan enclave
Nyama Bali- Nyama Selam, terutama yang berkaitan dengan menumbuhkembangkan
integrasi dan harmoni sosial di era otonomi daerah, tidak dapat dilepaskan dari
sejarah masuknya agama Islam ke Bali terkait perdagangan di pinggir pantai,
seperti Islam di pinggir pelabuhan Buleleng, Sangsit, Temukus kemudian menyebar
ke pedalaman bertani seperti Islam di Pancasari, Tegalinggah, dan Batu Gambir,
beberapa islam di pedalaman Karangasem. Enclave Islam terkait dengan politik kerajaan, tinggal di
sekitar kerajaan dan atau di pedalaman membentuk enclave tersendiri (Nyama
Selam Pegarayaman, Karangasem, Kepaon, Serangan, Loloan Negara, hubungan nyama
selam dengan kerajaan adalah hubungan “patro-klient, tautan kaula gusti. dan
migrasi berantai dalam perdagangan sektor informal. Faktor Integratif Enclaves
Nyama Bali- Nyama Islam dengan kerajaan, dapat dipahami dari latar belakang
sejarah politik kerajaan, dengan menempatkan penduduk muslim mengelilingi puri,
sebagai benteng, kasus ini dapat dijumpai pada masa kerajaan Karangasem,
Klungkung, Badung, Buleleng dan Jemberana, diikuti dengan perkawinan politik
(kasus badung dengan enclave Kepaon). Bentuknya di Bidang Sosial (Perkawinan
lintas agama, meminjam identitas etnik magibung, ngejot, menggunakan nama-nama
Bali, berbagai kesenian kolaborasi). Bentuknya di Bidang Relegi (Pura
Kertanegara/Gambur Angalayang, Subak Panji Anom, Pura Mekah di Bangli). Bentuk
di Bidang Politik (enclaves Kepaon, Pegayaman, sekitar Kerajaan Karangasem,
sekitar kerajaan di Bali). Bentuk di Bidang Ekonomi (ekonomi komplementer)
islam sekitar pelabuhan, pertanian di Tegalinggah, Panji Anom, Candikuning.
Banyak islam bergelut di sektor pertanian dan perdagangan informal. Semua ini telah
teruji dalam sejarah dapat mengintegrasikan Nyama Bali-Nyama Islam dalam
masyarakat multietnik di Bali. Berharap
dapat digunakan untuk merampungkan buku model integratif/harmoni sosial.
Penulis: I Made Pageh
Kode Jurnal: jpsosiologidd130417