Peningkatan Kemampuan Kreativitas Melalui Model Pembelajaran Kontekstual Pada Anak
Abstraksi: Latar belakang
masalah dalam penelitian ini adalah Kemampuan Kreativitas pada Anak Kelompok B
TK Assakinah Wirosari Kabupaten Grobogan masih rendah / belum tercapai target
sesuai dengan kriteria ketuntasan hasil pembelajaran, yaitu 75 %. Hal ini
disebabkan karena pembelajaran yang kurang menarik minat belajar anak didik,
sehingga anak kurang kreatif, banyak diam, sibuk dengan kegiatannya sendiri,
kurang memperhatikan penjelasan guru. Penelitian menggunakan jenis Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus. Masing-masing siklus memiliki 4 tahapan
yang sama, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan
(observing) dan refleksi (reflecting). Subyek penelitian adalah Anak didik
Kelompok B TK Assakinah Wirosari Kabupaten Grobogan dengan 20 anak, yang
terdiri 14 anak laki-laki dan 6 anak perempuan. Pembelajaran difokuskan pada
tema tanaman dan sub tema bagian-bagian dari tanaman. Metode Penelitian
Tindakan Kelas ini, pengumpulan datanya adalah dengan observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Analisis data yang terkait dengan peningkatan kemampuan
kreativitas pada anak melalui model pembelajaran kontekstual dilakukan dengan
menggunakan analisis deskripsi prosentase. Penyajian data yaitu kumpulan
informasi yang tersusun serta memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan
dan pengambilan tindakan. Penarikan simpulan yaitu data yang diperoleh dari
hasil penelitian kemudian diuji kebenarannya. Agar mengetahui perubahan
kemampuan kreativitas anak adalah diperoleh melalui perbandingan antara
kemampuan kreativitas sebelum menggunakan model pembelajaran kontekstual dan
setelah menggunakan model pembelajaran kontekstual. Pencapaian keberhasilan
biasanya ditetapkan berdasarkan suatu ukuran standar yang berlaku. Apabila
ditetapkan 75% sebagai lambang keberhasilan, maka pencapaian yang belum
mencapai 75% masih perlu dilakukan tindakan lagi. Hasil penelitian bahwa model
pembelajaran kontekstual dapat memotivasi anak kelompok B TK Assakinah Wirosari
Kabupaten Grobogan. Hal ini dapat dilihat bahwa semula pada kondisi awal
menunjukkan 20%, kemudian pada siklus I menunjukkan 70%, dan pada siklus II
menunjukkan 90%. Sesuai dengan indikator keberhasilan yakni 75% maka pada
siklus II sudah melampaui indikator keberhasilan yaitu 90%. Saran yang
disampaikan adalah: (1) Guru perlu memahami bahwa kecerdasan bukanlah hasil tes
karena kecerdasan menghasilkan kreativitas dan pemecahan masalah. (2) Guru
dapat memberikan proses pembelajaran kreatif dan inovatif dengan
mengaplikasikan berbagai metode, media dan model pembelajaran, sehingga dapat
memotivasi serta menstimulasi terhadap minat belajar anak, agar muncul ide-
ide. (3) Guru mampu mengkondisikan anak agar pembelajaran dapat mencapai pada tujuan yang diharapkan.
(4) Guru hendaknya selalu mengembangkan potensi serta ide-ide baru dalam
penerapan proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang dimiliki
anak.
Penulis: Siti Rukhani
Kode Jurnal: jppaudsddd130061