Validitas Pemeriksaan Complex Specific Antigen Mycobacterium tuberculosis Region of Difference 1‒3 Metode Rapid Immunochromatography pada Sputum Penderita Tuberkulosis Paru

Abstract: Tuberkulosis (TB) paru merupakan masalah kesehatan global. Diagnosis tuberkulosis paru saat ini berdasarkan pemeriksaan mikroskopis basil tahan asam (BTA) pada sputum dengan pewarnaan Ziehl Nelseen, namun sensitivitasnya rendah. Pemeriksaan antigen TB metode rapid immunochromatography (ICT) adalah suatu tes yang cepat, mudah, praktis, dan tidak memerlukan keterampilan khusus. Tes ini mendeteksi antigen yang disekresi Mycobacterium tuberculosis yaitu early secretory antigenic target 6 kDa protein (ESAT6), culture filtrate protein (CFP10), dan Mycobacterium protein tuberculosis (MPT64) yang disandi oleh gen region of difference (RD)1, RD2, dan RD3. Tujuan penelitian untuk mengetahui validitas antigen TB ICT dalam mendiagnosis tuberkulosis paru. Penelitian dilaksanakan September 2012‒Maret 2013 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Bentuk penelitian adalah observasional deskriptif dengan rancangan penelitian potong lintang dan analisis uji diagnostik. Setiap spesimen sputum dilakukan pemeriksaan mikroskopis BTA dan antigen TB rapid ICT. Biakan M. tuberculosis pada medium Ogawa digunakan sebagai standar baku emas. Tes niasin dilakukan pada koloni yang tumbuh. Didapatkan 149 subjek penelitian, kelompok usia terbanyak pada usia 30–39 tahun. Hasil pemeriksaan biakan didapatkan 56 sampel tumbuh, 86 tidak tumbuh, dan 7 terkontaminasi. Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan antigen TB rapid ICT masing masing adalah 95,7% dan 87,2%. Simpulan, pemeriksaan antigen TB rapid ICT mempunyai validitas yang tinggi, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis TB paru.
Kata kunci: Antigen TB rapid ICT, biakan M. tuberculosis, medium Ogawa, mikroskopis BTA
Penulis: Nenny Gustiani, Ida Parwati, Anna Tjandrawati, Leni Lismayanti
Kode Jurnal: jpkedokterandd140417

Artikel Terkait :