MULTIKULTURALISME DI BIMA PADA ABAD X – XVII
Abstract: Para penulis sejarah
Bima berpendapat bahwa awal peradaban Bima dimulai pada abad 17, ketika Bima menjalin hubungan-hubungan
politik dengan Sulawesi Selatan. Peradaban Hindu berupa kompeks peribadatan di
Wa du Paha, cenderung diabaikan, dianggap sebagai kebudayaan asing. Para
sejarawan cenderung berpendapat bahwa Bima sebelum Islam, memiliki kepercayaan
animisme dan dinamisme. Ada kecenderungan subyektivitas yang menolak peran Jawa
dalam sejarah Bima. Namun apabila dicermati pendapat ini tidak rasional. Apa kepentingan orang
Asing membangun tempat peribadatan di
suatu komunitas yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Tulisan ini berupaya merenkonstruksi kembali
sejarah Bima dengan menempatkan dan menghargai berbagai komponen kebudayaan
Bima yang telah membentuk peradabannya.
Unsur-unsur pra Islam menjadi unsure penting peradaban tidak hanya animism dan
dinamisme, tetapi juga Hindu. Hal ini masih nampak jelas sebagai idealism orang
Bima di masa kini.
Penulis: Bambang Sulistyo
Kode Jurnal: jpsejarah&umumdd140189