EVALUASI KINERJA PEMELIHARAAN PLTA DENGAN PENDEKATAN MAINTENANCE SCORECARD DAN OBJECTIVE MATRIX (OMAX) (Studi Kasus Unit Pembangkit Listrik Tenaga Air Maninjau)
Abstrak: Pembangkit Listrik
Tenaga Air (PLTA)
merupakan salah satu
jenis pembangkit listrik. Pembangkit tersebut
memiliki serangkaian mesin
dan peralatan yang
memiliki umur pemakaian tertentu.
Sebagai langkah antisipasi
terhadap habisnya umur
pakai tersebut, diperlukan
kegiatan perawatan untuk mengembalikan kondisi mesin dan peralatan sehingga bisa menjalankan
fungsinya dengan lancar.
Beberapa indikator dibutuhkan
untuk menentukan tingkat kinerja
aktivitas perawatan agar
kegiatan perawatan yang
dilakukan dapat memberikan hasil yang optimal. Metode pengukuran
tradisional memiliki keterbatasan yang
menjadikannya sulit diimplementasikan dalam
lingkungan industri. Oleh
karena itu dibutuhkan metode
pengukuran performansi yang dapat
melakukan penilaian dari berbagai perspektif secara seimbang terhadap
kinerja sistem secara keseluruhan. Salah satu caranya adalah dengan
menerapkan metode Maintenance
Scorecard dan Objective
Matrix (OMAX) untuk menilai
kinerja perawatan PLTA.
Tujuan penelitian dalam
penilaian ini adalah
untuk mengintegrasikan
pendekatan Maintenance Scorecard
dan OMAX pada
PLTA Maninjau. Key Performance Indicators
(KPI) didefinisikan dari 6 perspektif:
perspektif produktivitas, perspektif efektifitas
biaya, perspektif keselamatan
kerja, perspektif lingkungan,
perspektif kualitas dan perspektif pembelajaran. Prioritas ditentukan
menggunakan Analytical Hierarchy Process
(AHP). Kinerja perawatan
kemudian diukur menggunakan
OMAX sampai diperoleh tingkat kinerja
pada kondisi nyata.
Hasil yang diperoleh
kemudian digunakan untuk merancang maintenance
scorecard bagi PLTA
Maninjau, menghasilkan 20
KPI yang terdiri atas
9 KPI untuk
perspektif produktivitas, 4
KPI untuk perspektif
kualitas, 2 KPI
untuk perspektif keselamatan kerja, 2 KPI untuk perspektif lingkungan
dan 3 KPI untuk perspektif pembelajaran.
Terdapat 5 KPI
untuk level korporat,
8 KPI untuk
level strategis dan
7 KPI untuk level
fungsional. Hasil penilaian
menunjukkan bahwa Jumlah
KWH yang diproduksi, Faktor kapasitas dan Equivalent
Outage Force Factor berada pada zona kuning. Hal ini berarti bahwa dibutuhkan
perhatian dan peningkatan untuk periode selanjutnya.
Penulis: Taufik, Afrizal
Kode Jurnal: jptindustridd140079