EKSTRAKSI TANNIN SEBAGAI BAHAN PEWARNA ALAMI DARI TANAMAN PUTRIMALU (MIMOSA PUDICA) MENGGUNAKAN PELARUT ORGANIK
Abstract: Kesadaran masyarakat
untuk kembali menggunakan bahan pewarna alami mendorong dilakukannya ekstraksi
tannin dari putrimalu. Ekstraksi dilakukan secara kontinyu menggunakan alat
Soxhlet. Parameter yang dipelajari adalah pengaruh polaritas pelarut terhadap
ekstrak tannin dan koefisien transfer massa. Tannin diekstrak dari sepuluh gram
tanaman putrimalu kering menggunakan pelarut polar (etanol, aseton dan metanol)
dan pelarut non-polar n-heksana. Ekstraksi dianggap selesai jika konsentrasi
tannin di dalam pelarut sudah tidak berubah. Tannin di dalam contoh cairan yang
diambil setiap selang waktu 20 menit
dianalisis menggunakan Thin Layer Chromatography (TLC). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa konsentrasi tannin maksimum (g/mL) yang terdapat dalam
larutan yang mengandung ekstrak jika ekstraksi menggunakan n-heksana adalah
0,0031, aseton (0,016), metanol (0,0274) dan etanol (0,044). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ditinjau dari perolehan ekstrak dan koefieisen perpindahan
massa, maka pelarut yang terbaik adalah etanol. Hubungan antara konsentrasi
tannin di dalam pelarut etanol 96% dan waktu dinyatakan dengan persamaan
matematika: CAL=1,046(1-e-0,0213.t) dengan kesalahan 3,6%. Dimana CAL adalah
konsentrasi tannin dalam pelarut (g/mL) dan t adalah waktu ekstraksi (menit)
Penulis: Tjukup Marnoto, Gogot
Haryono, Dewi Gustinah, Fendy Artha Putra
Kode Jurnal: jpkimiadd120247