“Guyub Rukun”sebagai Representasi Interaksi Sosial Antar Buruh Kayu Gelondong di Desa Rakitan, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara

Abstrak: Dalam  perjuangan  hidupnya  guna  memenuhi  kebutuhan  hidup,  manusia  tidak  terlepas  dari interaksinya dengan manusia lain di sekelilingnya.  Manusia selalu terlibat interaksi dengan sesamanya. Begitu pula dengan buruh kayu gelondong yang ada di Desa Rakitan, mereka pun saling  berinteraksi  satu  sama  lain.  Interaksi  yang  terjalin  diantara  buruh  kayu  gelondong tersebut umumnya lebih bersifat positif  (assosiatif), yang digambarkan dengan kondisi ideal “guyub rukun”. Penelitian ini bertujuan untuk  mendeskripsikan bagaimana  “guyub rukun”terbentuk  sebagai  representasi  interaksi  sosial  serta  mengetahui  bagaimana  bentuk-bentuk kerjasama maupun kegiatan bersama sebagai hasil dari keadaan  “guyub rukun”antar buruh kayu gelondong di Desa Rakitan.
Penelitian  ini  mengambil  lokasi  di  Desa  Rakitan,  Kecamatan  Madukara,  Kabupaten Banjarnegara.  Dalam  penelitian  ini,  peneliti  menggunakan  pendekatan  deskriptif  kualitatif. Sesuai dengan tujuan penelitian ini, peneliti menggunakan teknik  purposive samplinguntuk memilih  informan  berdasarkan  kriteria  yang  sudah  ditetapkan  yaitu  buruh  yang  bekerja kurang dari lima tahun  dan lebih dari lima tahun. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian  ini  yaitu  melalui  wawancara  secara  semi  terstruktur  dan  juga  melalui  observasi. Validitas  dan  reliabilitas  data  pada  penelitian  ini diperkuat  dengan  triangulasi  data.  Proses analisis data menggunakan konsep analisis Miles danHuberman  yaitu melalui empat tahap penyusunan.
Hasil  penelitian  ini  menunjukan  bahwa  proses  terbentuknya  “guyub  rukun” sebagai representasi interaksi sosial antar buruh kayu gelondong yaitu melalui beberapa tahap, yaitu: (1) latar belakang pekerjaan yang sama, (2) saling  mengenal baik, (3) seringnya para buruh melakukan  sharing,  (4)  sering  glewehan dan  jahil  untuk  mengakrabkan  diri,  (5)  tidak  ada perbedaan interaksi sehingga memudahkan proses adaptasi dengan sesama buruh, (6) adanya perasaan  sadar  diri  terhadap  pekerjaan  dan  kemampuan  di  bidangnya.  Kemudian  hasil  dari keadaan  guyub  rukun  yang  terjadi  pada  saat  bekerja  yaitu  adanya  sistem  tabungan,  dan nyerepi.  Untuk  yang  diluar  jam  kerja  yaitu  liburan  bersama,  menghadiri  hajatan  bersama, menjenguk buruh yang sakit, sepak bola/futsal bersama, dan saling pinjam meminjam uang.
Kata Kunci: Guyub rukun, interaksi sosial, buruh kayu gelondong
Penulis: SORAYA FAJAR AYU L
Kode Jurnal: jpsosiologidd140083

Artikel Terkait :