Tingkat Penerapan Manajemen Mutu pada UMKM Pembenihan Udang di Jawa Timur

ABSTRAK: Udang  merupakan  salah  satu  komoditas  unggulan  dari  sektor  perikanan.  Mutu  benih  merupakan salah  satu  faktor  penentu  keberhasilan  usaha  budi  daya  udang,  sehingga  dalam  kegiatan  usahanya harus menerapkan teknik pembenihan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Operasional Prosedur  (SOP),  serta  menerapkan  manajemen  mutu  perbenihan,  yaitu  Cara  Pembenihan  Ikan  Yang Baik  (CPIB)  atau  Good  Hatchery  Practices  (GHP).  Tujuan  kajian  ini:  (1)  Mengetahui  tingkat  penerapan manajemen  mutu  pada  usaha  kecil  menengah  (UKM)  pembenihan  udang  dan  (2)  Menganalisis hubungan  tingkat  penerapan  manajemen  mutu  terhadap  kinerja  perusahaan.  Lokasi  kajian  dilakukan pada unit-unit pembenihan udang di kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, baik yang sudah, atau belum lulus sertifikasi CPIB. Metode pengumpulan data meliputi wawancara dan observasi. Tingkat penerapan manajemen  mutu  pada  pembenihan  udang  yang  berada  di  Jawa  Timur,  baik  yang  telah  disertifikasi maupun  yang  belum,  berada  pada  level  cukup  tinggi,  pada  3  tingkatan  yang  berbeda,  yaitu  tingkat Statistic Quality Control atau SQC (42,9%), Quality Assurance atau QA (21,4%) dan 35,7% pada tingkat penerapan Total Quality  Manajemen (TQM). Dari semua tingkatan lulusan penerapan manajemen mutu SQC, QA maupun TQM, terdapat empat faktor dominan yang dapat mempengaruhi kinerja Usaha Mikro Kecil  Menengah  (UMKM),  yaitu  effisiensi  biaya,  persentase  Sarjana  (S1),  persentase  sumber  daya manusia (SDM) yang mengikuti pelatihan per tahun, dan persentase keluhan pelanggan. Kebijakan yang perlu  diambil  untuk  level  TQM  adalah  melakukan  manajemen  pengawasan  mutu  sehingga  faktor-faktor dominan  yang  dapat  memberikan  kinerja  usaha  tinggi  dapat  tetap  dipertahankan.  Untuk  level  SQC dilakukan kegiatan pengawasan mutu yang disinkronkan dengan kegiatan pelatihan memadai, mengingat tingkat  pelatihan  di  level  ini  relatif  sangat  rendah.   Kebijakan  yang  perlu  diambil  untuk  level  QA  adalah perlunya peningkatan mutu benur agar memenuhi standar minimal yang telah ditetapkan dan akan lebih baik  lagi,  jika  memperoleh  sertifikasi kelayakan,  sehingga  mampu meningkatkan  daya  saing  jual  benur, baik jumlah maupun harga. Adanya jaminan mutu produksi perlu dilakukan, mengingat level ini memiliki jumlah keluhan pelanggan sangat tinggi dibandingkan kedua level lainnya, jauh di atas rataan.  
Kata kunci: benur, manajemen mutu , QC, QA, TQM, udang, UMKM
Penulis: Wisriati Lasima, Muhammad Syamsun dan Darwin Kadarisman
Kode Jurnal: jpmanajemendd120517
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<<
Atau download gratis di bawah ini:

Artikel Terkait :