Pengaruh Suplementasi Besi pada Tuberkulosis Paru dengan Anemia Defisiensi Besi (Kajian Respon Kesembuhan, Respon Imun, dan Resistensi)
Abstract: Prevalensi
Tuberkulosis Paru (TBP) di Indonesia sekitar 0,15%-0,26%. Suplementasi besi pada
penderita TBP dengan anemia defisiensi besi (ADB) mempunyai efek antara lain
mengaktivasi macrophage derived monocyt (MDM), dan interferon-gamma (IFN-γ),
dengan mekanisme umpan balik positif memacu interleukin-12 (IL-12). Tujuan penelitian
ialah untuk mengetahui pengaruh suplementasi besi terhadap respon kesembuhan,
respon imun, dan resistensi pada pasien TB dengan ADB tanpa anemia penyakit
khronis, tidak ada infeksi akut atau kronis, dan status gizi baik.
Metode penelitian: Metode penelitian ini adalah Randomized Clinical Trial
dengan Simple randomized the Pre test-Post test Control Group Design pada 252
responden secara tersamar ganda (triple blind). Responden yaitu penderita TBP
aktif kategori 1 dengan ADB sesuai dengan standar WHO yang mendapat pengobatan
strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS). Kelompok eksperimen
126 responden diterapi 2 RHZE / 4 R3H3 dan sulfas ferrosus 3 x 200 mg yang
mengandung ferro-sulfat heptahidrat 60 mg selama 2 bulan pertama, dan 3 kali
seminggu selama 4 bulan selanjutnya. Kelompok kontrol 126 responden diterapi 2
RHZE / 4 R3H3 dan plasebo. Variabel bebas adalah suplementasi besi, variabel
tergantung adalah konversi Bakteri Tahan Asam (BTA), IFN-γ, IL-12, Multi
Drug-Resistant TB (MDRTB), hemoglobin, serum Transferrin Receptor (sTfR), dan
Indeks Massa Tubuh (IMT). Analisis data dengan uji-t SPSS Version 15.0 (2007).
Hasil Penelitian: Hasil analisis data delta variabel penelitian antara
kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok eksperimen adalah: 1) peningkatan
konversi BTA dahak pada kelompok eksperimen sebesar +100% (p<0,05), 2)
peningkatan IFN-γ pada kelompok eksperimen sebesar +324,84% (p<0,05), 3) peningkatan
IL-12 pada kelompok eksperimen sebesar +364,42% (p<0,05), 4) penurunan
MDR-TB pada kelompok eksperimen sebesar –100% (p<0,05), 5) peningkatan
hemoglobin pada kelompok eksperimen sebesar +47,96% (p<0,05), 6) penurunan
kadar sTfR pada kelompok eksperimen sebesar –68,54% (p<0,05), 7) peningkatan
IMT pada kelompok eksperimen sebesar +45,63% (p<0,05), 8) menghambat mutasi
basatunggal CCT-Arginin, dan mutasi basa-berganda histidin–leusin GGC TGA DNA
MTB, 9) batas nilai ambang risiko terjadi MDR-TB pada kadar hemoglobin 9,5 gr%,
sTfR 60,26 pg/ml, IFN-γ 14,58 pg/ml, IL-12 15,56 pg/ml, dan IMT kurang 18,5
kg/m2, 10) batas nilai ambang kadar hemoglobin tertinggi 15 gr% untuk mencegah
makin beratnya infeksi MTB. Hasil uji test data logaritma semua variabel
berbeda sangat bermakna (p<0,00), kecuali IMT meningkat bermakna
(p<0,05), dan pada uji Mann-Whitney data delta didapatkan perbedaan sangat bermakna
(p<0,00).
Kesimpulan: Pada kelompok kontrol didapatkan 9 mutasi basa-ganda sebagai
penyebab MDR-TB. Jadi dapat disimpulkan bahwa suplementasi besi pada TB dengan
ADB meningkatkan: konversi BTA sputum, IFN- , IL-12, hemoglobin, IMT,
menurunkan sTfR, dan MDR-TB. Pada kelompok yang tidak diberi suplementasi besi
didapatkan 9 mutasi basa-ganda sebagai penyebab MDR-TB
Key words: interferon-gamma,
interleukin-12, iron supplementation, tuberculosis, Kata kunci:
interferon-gama, interleukin-12, resistensi, suplementasi besi, tuberculosis
Penulis: Djoko Trihadi Lukmono
Subagyo, Soeharyo - Hadisaputro, Hadiarto - Mangunnegoro
Kode Jurnal: jpkedokterandd100121