Mengukur Risiko dan Atraktivitas Investasi Infrastruktur di Indonesia

Abstrak: Ketersediaan infrastruktur yang andal dan memadai mempunyai peranan substansial bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian kebutuhan dana untuk investasi di sektor ini sangat besar yang tidak mampu sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah sendiri. Di sinilah peran sektor swasta sangat diharapkan untuk menutup kesenjangan finansial yang ada melalui skema kemitraan-pemerintah-swasta dalam pembangunan infrastruktur. Bagi sektor swasta, kemitraan yang ditawarkan merupakan salah satu alternatif investasi untuk diversifikasi aset. Dua isu kritis adalah tingkat risiko investasi dan besarnya kompensasi yang diberikan untuk menanggung risiko. Tulisan ini secara spesifik mendiskusikan pengukuran besaran tingkat pengembalian minimum yang diharapkan dan atraktivitas investasi infrastruktur di Indonesia dengan membandingkan minimum pengembalian yang diharapkan dan yang diterima menggunakan  Capital Asset Pricing Model. Data yang digunakan adalah indeks harga saham bulanan periode Januari 2002-Desember 2005 dari Bursa Efek Jakarta. Berdasarkan perhitungan, dua subsektor infrastruktur yang mempunyai tingkat risiko tertinggi adalah telekomunikasi dan jalan tol-bandara-pelabuhan. Pengembalian minimum untuk kedua subsektor ini masing-masing adalah 21,56% dan 20,18%. Analisis menunjukkan bahwa secara umum investasi infrastruktur menarik bila dipandang dari perspektif ekuitas, tetapi tidak dari perspektif aset. 
Kata-kata Kunci: Infrastruktur, cost of equity, cost of capital, CAPM, beta
Penulis: Andreas Wibowo
Kode Jurnal: jptsipildd050010

Artikel Terkait :