PERUBAHAN ANTI NUTRISI PADA SILASE BUAH SEMU JAMBU METE SEBAGAI PAKAN DENGAN MENGGUNAKAN BERBAGAI ARAS TEPUNG GAPLEK DAN LAMA PEMERAMAN

INTISARI: Penelitian dengan tujuan mengevaluasi kadar anti nutrisi dari silase buah semu jambu mete sebagai pakan dengan menggunakan berbagai aras tepung gaplek dan lama pemeraman yang berbeda telah dilaksanakan selama 8 bulan di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur dan Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Politeknik Pertanian Negeri Kupang Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dirancang dengan rancangan acak lengkap pola faktorial dengan aras gaplek sebagai faktor  pertama yang terdiri dari 0, 3, 6, 9% dan lama pemeraman sebagai faktor kedua yang terdiri dari 20, 40, dan 60 hari. Variabel yang diamati adalah kadar tanin dan kadar asam fitat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi silase  secara sangat nyata (P<0,01)  dapat menurunkan zat anti nutrisi buah semu jambu mete. Kadar tanin tertinggi pada silase tanpa aras gaplek dengan lama penyimpanan 20 yaitu 0,35%, sedangkan yang terendah pada silase tanpa aras gaplek dengan lama pemeraman 40 hari yaitu 0,06%. Kadar asam fitat tertinggi pada perlakuan aras gaplek 9% dengan lama pemeraman 40 hari yaitu 5,48%, sedangkan yang terendah pada silase dengan aras gaplek 6% dan lama penyimpanan 20 hari yaitu 2,38%. Kadar tannin dan asam fitat ini mengalami penurunan selama proses fermentasi dibandingkan dengan yang ada pada buah semu jambu mete segar. Disimpulkan bahwa teknologi silase dapat meningkatkan nilai manfaat buah semu jambu mete sebagai pakan ternak karena mampu menurunkan zat anti nutrisi. Silase buah semu jambu mete dengan zat anti nutrisi yang paling rendah terdapat pada perlakuan tanpa tepung gaplek yang diperam selama 60 hari. 
Kata kunci: Silase, Buah semu jambu mete, Lama pemeraman, Tepung gaplek, Tanin, Asam fitat
Penulis: Bernadete Barek Koten
Kode Jurnal: jppeternakandd100026

Artikel Terkait :