KUALITAS BAKSO DAGING SAPI PERANAKAN ONGOLE YANG DIBERI PAKAN BASAL TONGKOL JAGUNG DAN UNDEGRADED PROTEIN DALAM COMPLETE FEED

INTISARI: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia, fisik, dan sifat organoleptik bakso yang dibuat dari daging sapi Peranakan Ongole (PO) yang diberi pakan basal tongkol jagung dan undegraded protein dalam  complete feed. Materi penelitian yang digunakan adalah sembilan ekor sapi PO. Sapi-sapi ini dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu perlakuan pakan hijauan dan konsentrat (P1),  complete feed  (P2), dan  complete feed ditambah undegraded protein (P3). Sapi dipelihara selama empat bulan. Pada akhir pemeliharaan, semua sapi PO dipotong, dan diambil sampel daging dari otot Longissimus dorsi (LD) dan Biceps femoris (BF) untuk pembuatan bakso. Bakso yang dihasilkan lalu diuji kimia, fisik, dan organoleptik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized Complete Block Design (RCBD) dan perbedaan rerata diuji lanjut dengan  Duncan’s New Multiple Range Test. Data komposisi kimia dan kualitas fisik dianalisis variansi. Data sifat organoleptik dianalisis statistik non parametrik dengan metode Kruskal-Wallis. Hasil analisis statistik terhadap komposisi kimia dan kualitas fisik bakso menunjukkan bahwa jenis otot mempunyai pengaruh yang tidak nyata terhadap kadar air, kadar protein, pH, dan daya ikat air, kecuali kadar lemak dan keempukan bakso (P<0,05). Kadar lemak bakso LD (2,57%)  lebih rendah daripada bakso BF (2,66%), sedangkan keempukan bakso LD (14,95 mm) lebih tinggi daripada bakso BF (11,93 mm). Perlakuan pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar air, kadar lemak, kadar protein, dan pH bakso. Bakso P1, P2, dan P3 berturut-turut mempunyai kadar air 66,07, 66,36, dan 68,57%, kadar lemak 2,59, 2,62, dan 2,63%, kadar protein 12,41, 13,48, dan 13,90%, pH 6,76, 6,30, dan 6,01. Hasil uji statistik terhadap kualitas organoleptik bakso menunjukkan bahwa jenis otot dan perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna, rasa, tekstur, dan kekenyalan. Bakso LD dan BF berturut-turut mempunyai rerata skor warna 2,63 dan 2,58, rasa 2,55 dan 2,68, tekstur 2,90 dan 2,62, dan kekenyalan 2,60 dan 2,97. Bakso P1, P2, dan P3 berturut-turut mempunyai rerata warna yaitu 2,51, 2,56, dan 2,73, rasa 2,94, 2,44, dan 2,45, tekstur 3,09, 2,76, dan 2,43, dan kekenyalan 2,85, 2,77, dan 2,74. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa jenis otot dan perlakuan pakan berpengaruh terhadap sifat organoleptik bakso seperti warna, rasa, tekstur, dan kekenyalan. 
Kata kunci: Sapi PO, Complete feed, Undegraded protein, Kualitas bakso
Penulis: Karina Mia Berutu, Edi Suryanto, dan Ristianto Utomo
Kode Jurnal: jppeternakandd100029

Artikel Terkait :