KEHILANGAN GULA DALAM SISTEM TEBANG MUAT ANGKUT DI PABRIK GULA SINDANG LAUT DAN TERSANA BARU, CIREBON

ABSTRAK: Susut rendemen gula di lini produksi dari saat tebu ditebang sampai akhir pengolahan dapat mencapai 35%. Kehilangan terbesar terjadi saat tebang dan sebelum giling yaitu 5-25%. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam sistem tebang muat angkut, menganalisa pola penyusutan rendemen tebu sebelum giling, merekomendasikan sistem tebang muat angkut terbaik sesuai dengan kondisi pabrik gula yang menjadi objek penelitian. Pengelolaan tebang muat angkut (TMA) di kedua pabrik gula adalah dengan menggunakan sistem TMA manual. Waktu rata-rata tebu menunggu setelah ditebang adalah 3.3 jam dengan kisaran antara 0.25 jam sampai 48 jam. Pemuatan adalah 0.9 jam dengan kisaran antara 0.5 jam sampai 1.5 jam. Pengangkutan dari kebun ke pabrik adalah 0.83 jam dengan kisaran 0.25 jam sampai 2 jam.  Nilai briks tebu rata-rata kebun PG Sindang Laut adalah 18.73%. Nilai rata-rata tersebut memiliki kisaran terendah adalah 16.04% sedangkan tertinggi adalah 22.20%. Pabrik Gula Tersana Baru memiliki nilai briks tebu rata-rata diatas PG Sindang Laut, yaitu 20.12%. Nilai tersebut memiliki rentang antara 18% sampai 23%. Berdasarkan faktor penting dalam sistem tebang-muat-angkut, penebangan yang sesuai di kedua pabrik gula adalah dengan tenaga manusia, proses pemuatan dengan mekanisasi dan proses pengangkutan dari kebun ke pabrik dengan menggunakan truk. Untuk alat angkut lori diganti dengan menggunakan truk karena dapat mempercepat waktu menunggu tebu. Perubahan tersebut dapat mengurangi waktu siklus selama 12.77 jam. Mengacu pada pola penyusutan rendemen, maka rendemen di masing-masing pabrik gula meningkat sebesar 0.83%.
Kata kunci: nilai briks, pabrik gula, sistem tebang muat angkut, susut rendemen
Penulis: Tajuddin Bantacut, Sukardi, Irfan Ardiansyah Supatma
Kode Jurnal: jppertaniandd120024

Artikel Terkait :