PESAN DAMAI AL-GHAZALI; SEBUAH KONSEP KAFIR DAN MUKMIN DALAM PERSPEKTIF TASAWUF AKHLÂQÎ

Sari: Pengkafiran terhadap orang lain yang berbeda pemahaman kerap kali terjadi akhir-akhir ini. Seseorang biasanya tetap menuduh kâfir seorang mu'min meski dia masih melaksanakan sholat, puasa dan zakat. Mengkafirkan orang seharusnya sesuai dengan syarî'ah. Syarî'ah hanya membolehkan pengkafiran terhadap orang yang telah benar-benar keluar dari Islam, tidak mengakui Allah sebagai Tuhan, menolak Muhammad sebagai utusan-Nya, dan tentunya, menolak ajaran-ajarannya. Tulisan ini membahas tentang konsep kafir dan mukmin dalam perspektif tasawuf al-Ghazali. Paparan dalam tulisan ini merupakan hasil penelitian pustaka yang bersifat deskriptif. Dari hasil penelitian disimpulkan mengenai pemikiran al-Ghazali mengenai konsep kafir dan mukmin. Menurut al-Ghazali, orang yang menuduh kâfir seseorang tanpa bukti bahwa seseorang tersebut telah menolak ajaran Nabi Muhammad, sejatinya, adalah kâfir. Model pengkafiran ini juga terjadi pada masa al-Ghazali, di mana banyak ulama mengkafirkan lawan ideologinya hanya karena perbedaan pendapat. Dalam komunitas majemuk, melalui konsep tashawwuf akhlâkî, al-Ghazali menyarankan mu'min untuk menghargai semua orang kâfir, namun demikian, al-Ghzali juga melarang mu'min untuk menjadi kâfir, karena menurutnya, kufr dapat menghambat proses tazkiyah al-nafs. Berangkat dari perbincangan-perbincangan ini, al-Ghazali telah merumuskan lima kriteria kualitas seseorang, mu'min atau kâfir, yaitu al-wujûd al-dzâtî, al-wujûd al-hissî, al-wujûd al-khayâlî, al-wujûd al-'aqlî, dan al-wujûd al-syibhî.
Kata kunci: al-Ghazali, Kafir, Mukmin, Akhlâq
Penulis: Umar Faruq Thohir
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd130010

Artikel Terkait :