PERSPEKTIF TERHADAP KUALITAS

Menurut Fandy Tjiptono, (2005) ada lima macam perspektif terhadap kualitas yang berkembang. Kelima macam perspektif inilah yang biasa menjelaskan mengapa kualitas biasa diartikan secara beraneka ragam oleh orang-orang berbeda dalam situasi berlainan..
Adapun kelima macam perspektif kualitas menurut Fandy Tjptono, (2000) meliputi:
Transcendental Approach
Dalam pendekatan ini kualitas dipandang sebagai in excellence, dimana kualitas dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan. Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalan dunia seni musik, seni tari, seni rupa dan sebagainya.
Product-based Approach
Pendekatan ini mengangap kualitas merupakan karakteristik atau atribut yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur perbedaan, dalam kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut yang mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut yang dimiliki produk. Karena pandangan ini sangat objektif, maka tidak dapat menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individual.
User-based Approach
Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang memandangnya, sehingga produk yang paling memuaskan prefensi seseorang (misalnya perceive quality) merupakan produk yang berkualitas tinggi. Perspektif yang subjektif dan demand oriented ini juga menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula, sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakan.
  1. Manufacturing-based Approach. Perspektif  ini  bersifat  supply  based  dan  terutama  memperhatikan  praktek-praktek  perekayasaan  dan  pemanufakturan  serta  mendefinisi  kualitas  sebagai kesesuaian yang sama dengan persyaratan.
  2. Value-based Approach. Pendekatan ini merancang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan mempertimbangkan trade-off antar harga dan kinerja, kualitas didefinisikan sebagai “Affordable Exelence”. Kualitas dalm perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki kualitas yang paling tinggi belum tentu produk yang bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah barang yang tepat dibeli (best buy). 

Artikel Terkait :