JURNAL TERBARU

Efikasi Fortifikasi CookiesUbi Jalar untuk Perbaikan Status Anemia Siswi Sekolah

Abstrak: Selain suplementasi tablet besi, fortifikasi pangan lokal diperlukan sebagai alternatif program untuk perbaikan status besi. Tujuan penelitian ialah menguji efikasi fortififikasi cookiesubi jalar untuk peningkatan hemoglobin (Hb) pada siswi sekolah. Studi dilakukan dengan desain pre-post intervention study, yang melibatkan 74 siswi SMK Pelita Kabupaten Bogor. Studi dilaksanakan pada bulan Mei–Juli 2012. Cookiesubi jalar difortifikasi dengan 10,5 mg vitamin A, 42 µg vitamin B12, 1,25 g vitamin C, 2 mg asam folat, dan besi fumarat 150 mg per 100 g. Cookies sebanyak 40 g diberikan seminggu tiga kali selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan kadar Hb rata-rata sebelum intervensi 13,4±1,4 g/dL. Setelah intervensi, terdapat perubahan kadar Hb 0,4±1,6 g/dL dan sebanyak 65,2% subjek mengalami kenaikan Hb. Kenaikan Hb ini tidak memengaruhi prevalensi anemia yang sedikit meningkat dari 10,8% menjadi 18,8% dan secara statistik tidak nyata (p>0,05). Simpulan, intervensi fortifikasi cookies ubi jalar selama dua bulan tidak menurunkan prevalensi anemia pada anak sekolah. Disarankan studi berikutnya untuk menambah waktu intervensi dan menggunakan indikator status besi lainnya.
Kata kunci: Anemia, cookies, fortifikasi, siswi, ubi jalar

Kadar Laktat Darah sebagai Faktor Risiko Mortalitas pada Sepsis

Abstrak: Tolak ukur dini, bedside, dan parameter dapat tersedia di semua fasilitas kesehatan masih diperlukan untuk memantau perubahan metabolisme dan memperkirakan mortalitas pada sepsis neonatorum. Penelitian ini bertujuan mengetahui laktat darah sebagai faktor risiko mortalitas pada sepsis neonatorum. Penelitian berupa kohort prospektif dan dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode September–November 2010 dengan subjek adalah sepsis neonatorum. Pemeriksaan laktat darah menggunakan alat accutrend® lactate Plusyang dilakukan pada awal diagnosis, 12 jam, 24 jam, dan 48 jam pertama perawatan; kemudian dilakukan follow-upsampai penderita meninggal, pulang, atau hidup sampai usia 28 hari pascadiagnosis sepsis neonatorum. Data karakteristik subjek, gejala-gejala klinis, dan hasil pemeriksaan laboratorium dianalisis dengan univariat. Hasil analisis p< 0,25 dianalisis dengan regresi logistik. Nilai yang bermakna bersama dengan kadar laktat darah 12 jam dianalisis dengan cox proportional hazard model. Setelah dilakukan observasi terdapat 28 neonatus mengalami kematian dari 69 neonatus yang didiagnosis sepsis neonatorum. Berat badan lahir <2.500 gram (p=0,008), usia kehamilan <37 minggu (p=0,006), retraksi (p=0,010), dan waktu pengisian kapiler ≥3 detik (p=0,042) berhubungan dengan mortalitas. Hiperlaktatemia pada 12 jam meningkatkan risiko mortalitas tiga kali pada sepsis neonatorum (HR 3,062; IK 95%: 1,078–8,700). Kesimpulan penelitian ini adalah hiperlaktatemia 12 jam merupakan faktor risiko mortalitas pada sepsis neonatorum.
Kata kunci: Faktor risiko, laktat, mortalitas, neonatal, sepsis

Terapi Gizi pada Lanjut Usia dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

ABSTRAK: Gizi merupakan elemen kesehatan penting bagi populasi lanjut usia (lansia) dan mempengaruhi proses menua. Prevalensi malnutrisi meningkat pada populasi ini. PPOK merupakan salah satu penyakit kronik pada lansia yang berhubungan dengan malnutrisi. Hubungan antara malnutrisi dan penyakit paru (termasuk PPOK) sudah lama diketahui. Malnutrisi mempunyai pengaruh negatif terhadap struktur, elastisitas, dan fungsi paru, kekuatan dan ketahanan otot pernafasan, mekanisme pertahanan imunitas paru, dan pengaturan nafas. Sebaliknya, penyakit paru (termasuk PPOK) akan meningkatkan kebutuhan energi dan dapat mempengaruhi asupan diet menjadi menurun. Intervensi gizi pada pasien PPOK ditujukan untuk mengendalikan anoreksia, memperbaiki fungsi paru, dan mengendalikan penurunan berat badan. Kebutuhan akan zat gizi diperhitungkan sesuai dengan hasil asesmen gizi. Tulisan ini merupakan suatu tinjauan pustaka tentang terapi gizi pada lansia dengan PPOK. Artikel ini akan menguraikan tentang pengaruh penuaan terhadap sistem pernafasan, hubungan PPOK dengan gizi, dan bagaimana asesmen gizinya, serta intervensi gizi yang dapat diberikan pada pasien lansia dengan PPOK.
Kata kunci: asesmen gizi, intervensi gizi, penuaan, lansia, sistem pernafasan, PPOK

Endokarditis Infektif pada Laki-laki Berusia 60 Tahun di RSUP Dr. Kariadi Semarang

Abstrak: Endokarditis infektif merupakan infeksi pada lapisan jantung, terutama pada puncak dari katup jantung yang ditandai oleh demam dan bising jantung, dengan ataupun tanpa rasa lelah. Secara klinis dapat dibagi menjadi infeksi tahap awal, fase embolik, dan komplikasi lanjut akibat sepsis dan inf lamasi. Gambaran kasus seorang laki-laki berusia 60 tahun dibawa ke RSUP Dr Kariadi dengan keluhan utama demam yang berlangsung kurang lebih 2 bulan. Demam disertai penurunan berat badan 3 kilogram selama 2 bulan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan penampilan tampak sakit sedang. Bising sistolik di area katup triskupidal, sedangkan suara paru normal. Hasil positif koloni Streptococcus bhaemolyticus dari kultur darah dari 3 sisi lengan yang berbeda dengan jeda 30 menit setiap tempat dan swab tenggorok. Hasil ASTO, Echocardiographydan pemeriksaan fisik menunjukkan tanda endokarditis infektif. Terapi yang diberikan Ceftriaxone 2 gram per hari. Setelah hasil kultur negatif dan ada perbaikan klinis, pasien dirawat jalan dengan program tetap mendapatkan Ceftriaxone 2 gram per hari untuk 4 minggu. Diskusi keputusan pengobatan berdasarkan manifestasi klinik dan pemeriksaan mikrobiologi yang dilakaukan pada saat masuk ke instalasi gawat darurat. Kultur darah menggunakan 3 botol kultur yang diberi jarak 30 menit pada setiap tempat pengambilan merupakan prosedur yang penting untuk endokarditis infektif. Lebih lanjut swab tenggorok juga dilakukan untuk konfirmasi endokarditis. Pada akhirnya kultur menunjukkan tidak ada pertumbuhan setelah hari ke delapan perawatan. Kesimpulan metode kultur darah yang spesifik merupakan hal penting untuk diagnosa endokarditis infekstif dan sangat membantu klinisi dalam manajmen perawatan. Pada akhirnya peran spesialis mikrobiologi klinik tidak hanya membantu diagnosa namun pada pengobatan dalam hal pemilihan antibiotik yang tepat sesuai klinis penderita.
Kata kunci: endokarditis infektif, Streptococcus bhaemolyticus, kultur darah, pemakaian antibiotik yang tepat

Pengaruh Suplementasi Tepung Tempe Selama Bunting Terhadap Kadar Glutathione Peroksidase(GPx) dan Malondealdehyde (MDA) Anak Tikus; Studi pada Tikus Wistar yang Mendapat Pembatasan Diet selama Bunting

ABSTRAK: Radikal bebas selalu terbentuk dalam tubuh sebagai hasil samping respirasi aerobik. Pada bunting terjadi peningkatan produksi radikal bebas yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan struktural maupun fungsional pada janin. Tempe sebagai makanan asli Indonesia mempunyai kandungan vitamin, mineral, maupun isof lavon yang bersifat antioksidan, berpotensi mengurangi kerusakan akibat radikal bebas dan memperbaiki kerusakan DNA yang mungkin terjadi selama bunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi tepung tempe selama bunting terhadap kadar Glutathione peroksidase (GPx) dan kadar Malondealdehyde (MDA) sebagai indikator terjadinya peroksidasi lipid pada anak yang dilahirkan. Penelitian eksperimental dengan sampel 20 ekor tikus betina galur Wistar bunting, dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing 5 ekor. Perlakuan selama bunting: kelompok I mendapat pakan standar 10 g/ekor/hari, kelompok II mendapatkan 10g/ekor/hari pakan standar dan tepung tempe 1g/ekor/ hari, kelompok III mendapat pakan standar 10 g/ekor/hari dan tepung tempe 2 g/ekor/hari, kelompok IV mendapat pakan standar 10 g/ekor/hari dan 1 g telor ayam /ekor/ hari. Pemberian minum dengan aquades ad libitum. Selama masa menyusui (sampai umur 1 bulan) anak tikus diberi diet normal 10g/100gBB/hari, setelah disapih diberi tambahan diet tinggi lemak jenuh selama 4 minggu pada masing-masing kelompok. Rerata jumlah anak kelompok 1: 9,33 dengan rerata BB: 4,93 g, kelompok II:6,1��dengan rerata BB: 5,32, kelompok III: 5,1��dengan rerata BB : 5,33, kelompok IV: 6,33 dengan rerata BB: 5,01. Rerata kadar GPx pada kelompok I : 22,38 U/mg, kelompok II: 28,94 U/mg, kelompokII: 38,59 U/mg, dan kelompok IV: 16,98 U/mg. sedangkan rerata kadar MDA kelompok I: 11,0��nmol/mg, kelompok II: 9,89 nmol/mg, kelompok III: 10,06 nmol/mg, dan kelompok IV: 12,25 nmol/mg. Terdapat perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dengan perlakuan tepung tempe 1g/ ekor/hari maupun 2g/ekor/hari baik kadar GPx maupun MDA (p;0,00). Suplementasi tepung tempe berpengaruh terhadap kadar GPx dan kadar MDA tikus yang mendapat pembatasan diet selama bunting.
Kata kunci: tepung tempe, Glutathione Peroksidase (GPx), Malondealdehyde (MDA)

Hubungan Faktor Risiko dengan Penggunaan Narkoba pada Penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Tahun 2012/2013

ABSTRAK: Narkoba merupakan masalah kompleks yang dapat menimbulkan masalah keluarga maupun masyarakat. Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia mulai muncul dan banyak dibicarakan tahun 1969, hingga sekarang cenderung semakin meningkat dan kompleks. Jenis narkoba yang disalahgunakan juga semakin banyak dan bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis narkoba tetapi multiple drugs. Faktor resiko penggunaan narkoba bervariasi antara orang yang satu dengan yang lainnya, dan biasanya akibat interaksi beberapa faktor, yaitu faktor individu, faktor lingkungan dan faktor narkoba itu sendiri. Interaksi ketiga faktor tersebut dapat menyebabkan timbulnya penyalahgunaan narkoba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan penggunaan narkoba pada penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) wanita Semarang yang divonis hukuman kurungan karena terkait narkoba. Metode yang digunakan adalah penelitian analitik observasional cross sectional.Pengguni LP wanita Semarang sebanyak sebanyak 2��3, dimana 1��6 orang terkait narkoba, 9��non narkoba. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa faktor resiko yang berhubungan adalah faktor individu berupa kecemasan (p< 0,05) dengan kekuatan hubungan lemah (r=0,221).
Kata kunci: faktor risiko, penggunaan narkoba, LP Wanita Semarang

Eosinofilik Esofagitis

Abstrak: Eosinofilik  esofagitis   merupakan  gangguan  dimana  terjadi  infiltrasi  eosinofil  pada  mukosa  superfisial esophagus yang berhubungan dengan alergi makanan dan kondisi atopi seperti asma, dermatitis atopi, rhinitis alergika dan  sering  bersamaan  dengan  Gastroesophageal  Reflux  Disease  (GERD).  Diperkirakan  insiden  tahunan  43  per 10.000 pada anak. Gejala klinis mirip dengan GERD yaitu muntah, regurgitasi, nausea, nyeri dada atau epigastrium, disfagia dan hematemesis. Sekitar 50% pasien memiliki gejala alergi dan lebih 50% pasien memiliki orang tua dengan riwayat alergi. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan histologis. Gambaran endoskopi yang  ditemukan  antara  lain  feline  esophagus,  corrugated  esophagus,  ringed  esophagus,  atau  concentric  mucosal rings,  eksudat  putih,  vesikel  atau  papul  dan  hilangnya  pola  vaskular  menunjukkan  area  fokus  infiltrasi  eosinofil. Diagnosis  secara  histologis  sangat  penting  dimana  kriteria  eosinofilik  esofagitis  adalah  jika  ditemukan  eosinofil >20/HPF (High Power Field). Terapi yang diberikan adalah terapi diet, farmakologis seperti kortikosteroid sistemik atau topikal, penghambat reseptor leukotrin dan anti IL-5.
Kata kunci: eosinofilik esofagitis, alergi makanan, atopi

Memahami Patofisiologi dan Aspek Klinis Syok Hipovolemik: Update dan Penyegar

Abstrak: Secaran patofisiologis  syok  merupakan  gangguan  hemodinamik  yang  menyebabkan  tidak  adekuatnya hantaran oksigen dan perfusi jaringan. Gangguan hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sitemik terutama di arteri, berkurangnya darah balik, penurunan pengisian ventrikel dan sangat kecilnya curah jantung. Gangguan  faktor-faktor  tersebut  disbabkan  oleh  bermacam-macam  proses  baik  primer  pada  sistim  kardiovaskuler, neurologis  ataupun  imunologis.  Diantara  berbagai  penyebab  syok  tersebut,  penurunan  hebat  volume  plasma intravaskuler  merupakan  faktor  penyebab  utama.  Terjadinya  penurunan  hebat  volume  intravaskuler   dapat  terjadi akibat  perdarahan  atau  dehidrasi  berat,  sehingga  menyebabkan  yang  balik  ke  jantung  berkurang  dan  curah jantungpun  menurun.  Penurunan  hebat  curah  jantung  menyebabkan  hantaran  oksigen  dan  perfusi  jaringan  tidak optimal dan akhirnya menyebabkan syok. Pada tahap awal dengan perdarahan kurang dari 10%, gejala klinis dapat belum terlihat karena adanya mekanisme kompensasi sisitim kardiovaskuler dan saraf otonom. Baru pada kehilangan darah  mulai  15%  gejala  dan  tanda  klinis  mulai  terlihat  berupa  peningkatan  frekuensi  nafas,  jantung  atau  nadi (takikardi),  pengisian nadi yang lemah, penurunan tekanan nadi, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler yang lambat dan  produksi  urin  berkurang.  Perubahan  tekanan  darah  sistolik  lebih  lambat  terjadi  akibat  adanya  mekanisme kompensasi tadi, sehingga pemeriksaan klinis yang seksama harus dilakukan.
Kata kunci: syok, hipovolemik dan patofisiologi

Hubungan Komunikasi Dokter–Pasien Terhadap Kepuasan Pasien Berobat Di Poliklinik RSUP DR. M. Djamil Padang

Abstrak: Komunikasi dokter  –  pasien adalah suatu hal yang sangat penting dalam proses terapeutik di rumah  sakit. Kualitas komunikasi yang terjadi diantara kedua belah pihak akan menghasilkan kepuasan di dalam diri pasien karena pasien akan merasa puas dan kembali lagi ke dokter yang sama jika komunikasi mereka baik dan efektif. Penelitian ini bertujuan  untuk  mengetahui  hubungan  komunikasi  dokter  –  pasien  dengan  kepuasan  pasien  berobat  di  poliklinik RSUP  dr.  M.  Djamil  Padang.  Desain  penelitian  adalah  Cross  Sectional  dengan  teknik  pengambilan  subjek  yaitu proportionate stratified random sampling dengan jumlah  107 orang. Data diolah dan dianalisis menggunakan program komputer SPSS  17 dengan uji statistik chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan komunikasi dokter  –  pasien cukup baik yaitu 46,7% dan tingkat kepuasan pasien yaitu 86,9%. Hasil analisis bivariat   secara umum menunjukkan ada  hubungan  bermakna  antara  komunikasi  dokter  –  pasien  terhadap  kepuasan  pasien.  Kesimpulan  dari  hasil penelitian ini ialah terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi dokter  –  pasien terhadap kepuasan pasien berobat di poliklinik RSUP dr. M. Djamil Padang.
Kata kunci: komunikasi, kepuasan

Hubungan Derajat Merokok Dengan Derajat Eksaserbasi Asma Pada Pasien Asma Perokok Aktif di Bangsal Paru RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2007 - 2010

Abstrak: Prevalensi  asma  dan  perokok  aktif  di  Indonesia  semakin  meningkat.  Penyakit  asma  dapat  menurunkan kualitas  hidup  dan  menimbulkan  kematian  terutama  pada  perokok  aktif  jika   eksaserbasi  asma  berat  terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara derajat merokok dengan derajat  eksaserbasi asma pada pasien asma perokok aktif.  Penelitian analitik  telah dilakukan  dengan menggunakan data deskriptif di Bangsal  Paru  RSUP  Dr.  M.  Djamil  Padang  pada  bulan  Desember  2011  sampai  Januari  2013.  Data  yang dikumpulkan  berasal  dari  catatan  rekam  medik  pasien  asma  di  Bangsal  Paru  sejumlah  228  orang.  Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik total sampling sehingga  didapatkan sampel sebanyak lima puluh orang. Untuk  melihat  hubungan  antara  derajat  merokok  dengan  derajat  eksaserbasi  asma  digunakan  uji  korelasi Spearman.  Hasil  Penelitian  menunjukkan  51  dari  228  dari  pasien  asma  (22,4%)  adalah  perokok  aktif.  Secara umum  pasien  memiliki  derajat  merokok  sedang  (41,18%)  dan  derajat  eksaserbasi  asma  sedang  (78,43%). Berdasarkan analisis statistik didapatkan nilai p = 0,275  (p<0,05)  yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma.
Kata kunci: merokok, eksaserbasi, asma
 
Support : E-JURNAL | PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2013. JURNAL - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai
Proudly powered by Blogger