JURNAL TERBARU

MODEL AHP/DEA UNTUK MENGUKUR EFISIENSI PENGGUNAAN TEKNOLOGI GAS BUANG RUMAH TANGGA RAMAH LINGKUNGAN

Abstrak: Dalam  makalah  ini  diperkenalkan  sebuah  model  AHP/DEA  untuk  mengukur  efisiensi  penggunaan teknologi  gas  buang   rumah  tangga  ramah  lingkungan.  M odel  ini  merupakan  sebuah  model  yang mengintegrasikan antara AHP dan DEA yang merupakan  salah satu dari metode multi-criteria decision making  (MCDM).  Metode  ini  merupakan  salah  satu  prosedur  saintifik  yang  dapat  digunakan  untuk mengukur penggunaan teknologi gas ramah lingkungan.
Kata kunci: AHP, DEA, teknologi gas ramah lingkungan
Penulis: Parwadi Moengin
Kode Jurnal: jptindustridd130270
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ..

KNOWLEDGE CONVERSION PADA PROSES PERENCANAAN PROYEK DI PT. LEN RAILWAY SYSTEM UNTUK STANDARDISASI PROSES DENGAN METODE SECI

Abstrak: PT LEN Railway System bergerak pada pembangunan proyek pensinyalan kereta api, namun pada proses perencanaan proyek pada perusahaan tersebut masih berupa tacit knowledge (pengalaman) pekerja yang akan hilang. Oleh karena itu, diperlukan adanya konversi  knowledge pekerja yang masih berbentuk tacit knowledge menjadi knowledge yang terdokumentasikan ke dalam bentuk explicit knowledge. Penelitian ini menggunakan metode SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization).   Pada tahap socialization dilakukan eksplorasi data kepada pelaku proyek yang bersangkutan mengenai proses bisnis suatu  aktivitas  maupun  tacit  dan  explicit  knowledge  dari  masing-masing  aktivitas.  Pada  tahap externalization dilakukan pendokumentasian dari hasil eksplorasi data. Pada tahap combination dilakukan pemilihan  best  practice  dengan  menggunakan  beberapa  tools  yaitu:  metode  Delphi,  metode  AHP  dan pemilihan  best  practice  menggunakan  metode  factor  rating.  Best  practice  yang  didapatkan  akan dikombinasikan  dengan  proses  aktivitas  dari  PMBOK.  Pada  tahap  internalization  dilakukan penginformasian kepada pekerja mengenai best practice yang telah didapatkan dari hasil penelitian.  Best practice  yang  terpilih  dari  hasil  perhitungan  factor  rating  didapatkan  sebagai  berikut  best  practice pembuatan  WBS  adalah  proses  bisnis  dari  responden  2  dengan  nilai  sebesar  8,710,  untuk  penentuan jadwal proyek dari responden 2 dengan nilai sebesar 8,067, untuk penentuan biaya proyek dari responden 3  sebesar  9,554,  untuk  pemilihan  supplier  dari  responden  1  sebesar  8,330,  untuk  pembuatan  desain proyek dari responden 1 sebesar 8,368 dan untuk pengadaan barang dari responden 1 dengan nilai sebesar 8,195.
Kata Kunci: knowledge conversion, knowledge management, metode SECI

KAJIAN MANUAL MATERIAL HANDLING TERHADAP KEJADIAN LOW BACK PAIN PADA PEKERJA TEKSTIL

Abstrak: Kegiatan  packing  di departemen Pemintalan ditangani  secara manual seperti  weighing,  mengatur kotak tempat  yang  tinggi  sampai  2,5  m  pada  pallete  tersebut.  Jika  mengangkat  dan  memindahkan  kotak dilakukan oleh salah cara, bisa menyebabkan kecelakaan dan  pekerjaan  terkait  penyakit (nyeri punggung bawah).  Oleh  karena  itu  tujuan  dari  penelitian  ini  untuk  menganalisis  hubungan  antara  kasus  nyeri pinggang  dan  RWL-LI,  dan  variabel  lainnya  (umur,  jenis  kelamin,  kebiasaan  merokok,  tingkat pendidikan, dan masa kerja) untuk kasus nyeri punggung bawah.
Nyeri pinggang Pekerja diidentifikasi oleh peta tubuh Nordic dan kuesioner.  lifting index  dihitung oleh RWL-LI. Regresi logistik dengan Minitab 14.0 Program  diterapkan baik dalam  hubungan antara  kasusnyeri  pinggang  dan  RWL-LI  atau  hubungan  antara  kasus  nyeri  pinggang  dan  variabel  lainnya  (umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, dan tingkat pendidikan).
Hasil penelitian menunjukkan Ghit  = 3,610 or p value = 0,04, maka  diartikan bahwa  lifting index  (RWLLI) secara  signifikan berpengaruh  terhadap kasus-kasus  nyeri punggung bawah. Sementara itu  variabel lain secara signifikan dipengaruhi adalah usia  (Ghit = 6,637 or p value = 0,01), kebiasaan merokok  (Ghit = 5,730  or  p  value  =  0,017),  tingkat  pendidikan  (Ghit  =  6,295  or  p  value  =  0,012).  Jenis  kelamin  tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kasus-kasus nyeri punggung bawah.
Kata kunci: RWL-LI, nyeri punggung bawah, manual material handling

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENAMBAHAN MESIN FRAIS BARU PADA CV. XYZ

Abstrak: Perkembangan teknologi sangat pesat sehingga dunia perindustrian  harus  mengikuti perkembangannya. Penerapan  teknologi  diharapkan  dapat  meningkatkan  proses  produksi  sehingga  dapat  menghasilkan produk yang berkualitas. Pada industri pembuatan mesin cetak di CV XYZ, mesin-mesin yang digunakan telah hampir lebih dari 20 tahun. Ada indikasi bahwa mesin -mesin tersebut sudah lewat umur pakainya. Alternatif  yang  digunakan  selama  ini  ialah  penggantian  komponen  yang  rusak.  Peneliti  ingin membandingkan alternative tersebut dengan penambahan mesin frais baru. Untuk itu diperlukan analisis kelayakan investasi penambahan mesin baru. Dalam perkiraan kurun waktu 10 tahun dan suku bunganya 15  %  dengan  menggunakan  NPV,  penambahan  mesin  frais  menarik  sebesar  Rp  461.201.000 dibandingkan  penggantian  komponen  yang  rusak  sebesar  Rp  211.227.000.  Sebaliknya  pada  PBP, penggantian  komponen  yang  rusak  masih  mengungguli  dengan  1  tahun  4  bulan  dibandingkan penambahan  mesin  frais baru selama 2 tahun 1 bulan. Begitupun juga PI penggantian  komponen  yang rusak  masih  menarik  sebesar  4,2  dibandingkan  PI  penambahan  mesin  frais  baru  sebesar  2,56.  Dapat disimpulkan  bahwa  dalam  jangka  waktu  10  tahun,  alternatif  penggantian  komponen  yang  rusak  masih lebih baik dibandingkan penambahan mesin frais baru. Namun,  untuk  investasi jangka panjang, mungkin saja alternatif penambahan mesin frais baru lebih menarik.
Kata Kunci: penggantian komponen rusak, mesin frais baru, mesin cetak

USULAN PERBAIKAN FASILITAS KERJA PADA STASIUN PEMOTONGAN UNTUK MENGURANGI KELUHAN MUSCULOSKELETAL DI CV. XYZ

Abstract: CV. XYZ adalah sebuah perusahaan yang memproduksi suku cadang mesin-mesin pengolahan kelapa sawit. Proses pemotongan dalam produksi suku cadang di CV.XYZ dilakukan dengan postur kerja jongkok. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bahaya kondisi proses pemotongan dan merancang perbaikan fasilitas kerja. Metode yang digunakan adalah SNQ, QEC dan anthropometri. Hasil SNQ yang diperoleh adalah rata-rata operator mengalami keluhan pada bagian punggung dan kaki. Hasil QEC adalah rata-rata kategori tindakan dalam waktu dekat pada proses pemotongan. Hasil analisis QEC juga menunjukkan proses pemotongan tergolong berbahaya dan dapat menyebabkan keluhan musculoskeletal disorder (MSDs). Hasil antropometri adalah rancangan fasilitas kerja yang dibuat untuk mengurangi keluhan musculoskeletal disorder (MSDs). Rancangan fasilitas kerja berupa meja pemotongan dan kursi operator. Dimensi meja pemotongan adalah tinggi 66 cm, lebar 60 cm, panjang 315 cm dan tebal 13 cm. Dimensi kursi operator adalah lebar sandaran 44 cm, lebar kursi 44 cm, tinggi sandaran 42 cm, dan tinggi tempat duduk 40 cm.
Keywords: Keluhan musculoskeletal Disorder (MSDs), QEC, Rancangan Fasilitas Kerja

Aplikasi Fuzzy Linear Programming untuk Produksi Bola Lampu di PT XYZ

Abstract: PT XYZ merupakan perusahaan yang memproduksi bola lampu. Permintaan pasar yang tinggi menyebabkan perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan tersebut dikarenakan perencanaan produksi yang tidak optimal. Dari data, diketahui bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan pasar pada produk bola lampu merek Stanlee Star G-20 sebesar 8% dan S-25 sebesar 18,32% sedangkan bola lampu merek Dai-Ichi G40 diproduksi melebihi permintaan pasar sebesar 9,1%. Hal ini menyebabkan perusahaan kehilangan opportunity profit. Perencanaan produksi bola lampu diteliti dengan tujuan agar perusahaan dapat memenuhi permintaan pasar sesuai dengan keterbatasan sumber daya yang tersedia. Metode perencanaan produksi yang digunakan adalah metode fuzzy linear programming dengan metode simpleks. Dengan menggunakan Fuzzy Linear Programming dapat diperoleh nilai optimum jumlah produk bola lampu yang diproduksi sesuai permintaan pasar dan sesuai dengan keterbatasan sumber daya produksi. Sumber daya yang diteliti adalah kapasitas produksi, waktu kerja, dan bahan baku. Nilai interval logika fuzzy yang digunakan adalah t = 0 dan t = 1. Penyelesaian metode simpleks dilakukan dengan menggunakan software LINGO 13. Hasil penilitian menunjukkan bahwa permintaan pasar terpenuhi untuk ketiga merek bola lampu. Kapasitas produksi mencukupi sehingga tidak diperlukan penambahan jumlah mesin, sedangkan waktu kerja dan bahan baku tidak mencukupi. Perusahaan dapat menentukan jumlah bahan baku dan waktu kerja yang diperlukan dengan menggunakan nilai λ yaitu sebesar 0,536. Nilai λ digunakan untuk menentukan skala terbesar nilai interval t untuk setiap kendala bahan baku dan waktu kerja yaitu 0,464. Aplikasi fuzzy linear programming meningkatkan keuntungan sebesar 7,39% dari konsep linear programming biasa.
Keywords: Perencanaan Produksi, Logika Fuzzy, Pemrograman Linear, Fuzzy Linear Programming

PENILAIAN PROSES PERAKITAN PRODUK SAKLAR DENGAN METODE QFD DI PT X

Abstract: PT X adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi peralatan  listrik, seperti saklar, sekring, dan stopkontak. Permasalahan yang terjadi pada perusahaan adalah adanya pemborosan waktu dan biaya dalam proses produksi saklar 805 karena penggunaan komponen perakitan yang tidak memiliki nilai tambah, berukuran kecil, dan mudah rusak. Hal tersebut dapat menyebabkan waktu perakitan menjadi lebih panjang, sehingga unit cost produk menjadi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi penyebab terjadinya pemborosan waktu dan biaya dalam proses perakitan produk. Permasalahan ini dipecahkan dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). QFD digunakan untuk mendapatkan suatu matriks yang menghubungkan antara atribut proses perakitan dengan karakteristik teknis produk. Karakteristik teknis produk yang memiliki nilai tertinggi menunjukkan bahwa karakteristik teknis tersebut menjadi fokus permasalahan yang dihadapi perusahaan, sedangkan atribut proses perakitan yang memiliki nilai tertinggi merupakan hal-hal yang harus diperbaiki untuk mengatasi permasalahan yang ada. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa kinerja karakteristik teknis yang memperoleh nilai tertinggi adalah karakteristik teknis waktu perakitan dengan nilai tingkat kesulitan 5,  derajat kepentingan 27 serta perkiraan biaya 22 dan biaya perakitan dengan nilai tingkat kesulitan 5,  derajat kepentingan 25 serta perkiraan biaya 23, sedangkan atribut proses perakitan yang memperoleh nilai relative weight tertinggi adalah variabel kaki part 805 mudah patah dengan nilai relative weight 16,538 dan komponen 8433, 8433 N, 805 A dan 3303 sebagai komponen penyusun saklar 805 perlu diselaraskan dengan nilai relative weight 16,318.
Keywords: QFD, Produk Saklar, Rancangan Perbaikan

PERENCANAAN KEBUTUHAN KAPASITAS (ROUGH CUT CAPACITY PLANNING) INDUSTRI PENGOLAHAN PERALATAN RUMAH TANGGA DI PT. X

Abstract: Suatu perusahaan akan mampu memberikan nilai terbaik kepada pelanggannya apabila memiliki rencana produksi yang realistis yang berarti bahwa output produksi direncanakan berdasarkan sumber daya potensial, khususnya kapasitas produksi. Rencana produksi di PT. X disusun tanpa perencanaan kapasitas sehingga mengakibatkan jumlah produksi tidak tercapai sebesar 10% dari yang telah direncanakan pada tahun 2011. Oleh karena itu, integrasi antara rencana produksi dan rencana kapasitas perlu dilakukan agar diperoleh rencana produksi yang realistis. Metode yang digunakan adalah peramalan, Rough Cut Capacity Planning (RCCP) dan pemberian usulan alternatif keputusan. Hasil perkiraan jumlah permintaan tahun ke enam (November 2012-Oktober 2013) yang diperoleh melalui peramalan adalah 77.760 unit. Berdasarkan RCCP ditemukan bahwa terdapat kekurangan kapasitas sebesar 1,61 jam pada WC II, 182,14 jam pada WC III, dan 150,89 jam pada WC V. Kekurangan kapasitas pada WC II diatasi dengan merevisi persentase kerja operator 4 dari 45,16% menjadi 50%. Kekurangan kapasitas pada WC III diatasi dengan merevisi persentase kerja operator 5 dari 57,95% menjadi 80%. Usulan alternatif keputusan terhadap rencana produksi dan kapasitas produksi untuk mengatasi terjadinya kekurangan kapasitas pada WC V antara lain mengoreksi rencana produksi dengan melakukan penurunan jumlah produk sesuai dengan kapasitas tersedia, menyesuaikan jumlah unit produk antar periode, dan menambah jumlah mesin. Penurunan jumlah produksi berdasarkan alternatif I dan II adalah sebesar 3,93% dan 1,04%. Tambahan kapasitas yang diperoleh berdasarkan alternatif III adalah 50% dari kapasitas sebelumnya.
Keywords: Kapasitas, Peramalan, Rough Cut Capacity Planning

PERANCANGAN ALAT PEMERAS KELAPA PARUT MENJADI SANTAN DENGAN CARA PENGEPRESAN MANUAL YANG ERGONOMIS

Abstract: Sering ditemukan mesin atau alat pemeras kelapa parut dipasar tradisional dikota Medan. Mesin atau alat tersebut dijual dengan harga yang relatif mahal, kurang ergonomis dan dengan kapasitas input yang kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah pembuatan rancangan mesin pemeras kelapa parut yang ergonomis, input besar dan murah. Tahapan yang digunakan adalah mendeteksi keluhan musculoskeletal yang diakibatkan oleh pemakaian alat yang sudah ada. Dengan menggunakan Standard Nordic Questionnairre (SNQ) dengan cara menyebarkan kuisioner. Hasil penilaian kuisioner digunakan sebagai dasar untuk merubah dimensi alat agar sesuai dengan anthropometri operator yang akan menggunakan. Setelah rancangan dimensi alat sesuai dengan konsep ergonomi maka dilakukan penyebaran kuisioner terbuka dan kuisioner tertutup untuk pembuatan Quality Function Deployment (QFD). Kemudian diukur waktu siklus untuk menentukan waktu pemerasan alat pemeras kelapa parut. Berdasarkan perancangan alat kelapa parut yang baru maka diusulkan metode kerja baru yang telah distandarkan berupa standard operation procedure (SOP) alat Pemeras kelapa parut. Dari hasil pengolahan data dan analisis pemecahan masalah dapat diambil kesimpulan bahwa perancangan alat pemeras kelapa parut usulan dapat meminimalkan keluhan Muscoluskeletal pada operator. Hasil santan alat pemeras kelapa parut usulan memberikan hasil lebih banyak 20% dari alat yg lama, alat kelapa parut usulan lebih murah harganya dibandingkan dengan alat pemeras kelapa parut yang ada dipasaran dan waktu siklus dari alat pemeras kelapa parut usulan lebih cepat 5% dibandingkan dengan alat pemeras kelapa parut yang lama. Dengan syarat harus menggunakan SOP yang sudah dibuat
Keywords: SNQ, Keluhan Musculoskeletal, QFD, Waktu Siklus, SOP

APLIKASI METODE TAGUCHI ANALYSIS DAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) UNTUK PERBAIKAN KUALITAS PRODUK DI PT. XYZ

Abstract: PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak dibidang produksi lolly dan cup plastik. Produk lolly yang dihasilkan oleh perusahaan ini sering mengalami kecacatan dan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, bahkan jumlah produk cacat melebihi toleransi yang diberikan oleh perusahaan. Ketatnya persaingan saat ini memaksa perusahaan harus membuat suatu konsep rencana yang berorientasi kepada kualitas produk yang akan menjadi suatu keunggulan yang dapat dipergunakan untuk menghadapi persaingan. Pentingnya kualitas merupakan salah satu alasan melakukan penelitian terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana produk lolly telah memenuhi spesifikasi yang telah distandarkan perusahaan dan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan kualitas produk. Metode yang digunakan adalah Metode Taguchi Analysis dan Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk memberikan rekomendasi tindakan perbaikan yang tepat. Hasil analisa taguchi diolah dengan menggunakan S/N Ratio dan analisis varians. Hasil penelitian menunjukan faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas produk lolly adalah suhu pendingin produk pada level 1 dengan suhu 140 C, kecepatan injeksi angin pada level 2 dengan kecepatan 25 m/s dan suhu injeksi bahan baku ke dalam cetakan pada level 1 dengan kecepatan 220 m/s. Hasil penerapan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) diperoleh faktor yang paling berpengaruh dan paling besar penyebab kegagalan proses produksi yaitu suhu pendingin produk yang terlalu tinggi dengan nilai RPN terbesar 192.
Keywords: Kualitas, Metode Taguchi analysis, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)
 
Support : E-JURNAL | PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2013. JURNAL - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai
Proudly powered by Blogger