JURNAL TERBARU

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MELALUI PENELITIAN DESAIN

Abstrak: Saat ini, guru-guru matematik dan pihak-pihak terkait telah mencoba membuat bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Matematika 2006 atau KTSP, namun hasilnya kurang memuaskan. Hal ini akibat dari pembuatan bahan ajar hanya berdasarkan pada perkiraan atau asumsi-asumi dari pembuat bahan ajar, yaitu diasumsikan siswa akan belajar melalui lintasan belajar tertentu. Salah satu solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan cara mengembangkan Hypothetical Learning Trajectory melalui Penelitian Desain.
Kata Kunci: Bahan Ajar, Penelitian Desain, Hypothetical Learning Trajectory

PENERAPAN METODE BESARAN PIVOT DALAM PENURUNAN RUMUS TAKSIRAN INTERVAL DARI KOEFISIEN REGRESI LINEAR SEDERHANA

Abstrak: Regresi merupakan bentuk hubungan antara variabel bebas X dan variabel respon Y yang dinyatakan dalam sebuah persamaan matematik. Persamaan matematik tsb selanjutnya akan merupakan sebuah persamaan regresi. Persamaan regresi linear yang sebenarnya berbentuk Y = α + βX + ε. Dari koefisien regresi α dan β, maka β merupakan koefisien regresi yang berpengaruh terhadap perubahan variabel respon Y.
Karena nilai β ini biasanya tidak diketahui, maka nilainya akan ditaksir berdasarkan data sampel. Dalam hal ini, penaksiran β yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penaksiran interval. Dengan kata lain, bagaimana bentuk rumus taksiran interval dari β ini. Sehingga dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana penurunan rumus taksiran interval dari β. Dalam statistika matematik ada sebuah metode yang digunakan dalam penaksiran interval ini, yaitu metode besaran pivot.
Kata Kunci: Regresi Linear Sederhana, Taksiran Interval Koefisien Regresi, Besaran Pivot

PEMBELAJARAN MATEMATIKA HUMANIS DENGAN METAPHORICAL THINKING UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA

Abstak: Penelitian ini menggunakan metoda eksperimen pre-test postest disign. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kepercayaan diri siswa dalam matematika pada pembelajaran matematika humanis dengan metaphorical thinking. Penelitian  ini dilakukan di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar dan angket tentang kepercayaan diri siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Matematika humanis dengan  metaphorical thinking (MT) lebih unggul dari pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa, baik ditinjau secara keseluruhan maupun berdasarkan level sekolah dan kemampuan awal matematika siswa. Terdapat asosiasi yang tinggi antara KAM dan kepercayaan diri pada kelas dengan pembelajaran metaphorical thinking, dan pada kelas konvensional asosiasi antara KAM dan kepercayaan diri tergolong cukup. Kepercayaan diri siswa  yang pembelajarannya menggunakan pendekatan metaphorical thinking (MT) lebih baik daripada yang menggunakan cara biasa (CB), kepercayaan diri  siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan MT dan CB berada dalam kualifikasi sedang
Kata kunci: metaphorical thinking, kepercayaan diri

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR STATISTIS MAHASISWA S1 MELALUI PEMBELAJARAN MEAS YANG DIMODIFIKASI

Abstrak: Makalah ini berisi hasil penelitian tentang peningkatan kemampuan berpikir statisis mahasiswa S1 melalui pembelajaran Model-Eliciting Activities (MEAs) yang dimodifikasi dari MEAs yang telah dikembangkan oleh Garfield, delMas dan Zieffler (2010) dengan memasukan Didactical Design Research (DDR) pada saat pembuatan bahan ajar. Dalam penelitian ini dilakukan metode kuasi eksperimen dengan disain pretes-postes. Penelitian dilakukan terhadap seluruh mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Matematika sebuah PTN di Bandung yang sedang mengikuti perkuliahan Statistika Dasar pada semester ganjil tahun akademik 2011/2012. Pada kelas kontrol (mahasiswa kelas A prodi Pend. Mat angkatan 2010/2011 sebanyak 39 orang) diberi pembelajaran konvensional sedangkan pada kelas eksperimen 1 (mahasiswa kelas B prodi Pend. Mat angkatan 2010/2011 sebanyak 41 orang) dan kelas eksperimen 2 (mahasiswa prodi Pend. Mat angkatan 2008/2009 yang mengulang Statistika Dasar sebanyak 12 orang) diberi pembelajaran MEAs yang dimodifikasi. Selanjutnya pada masing-masing kelas, mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan pada skor hasil tes kemampuan awal statistis (TKAS). Data tentang kemampuan berpikir statistis mahasiswa diperoleh melalui tes kemampuan berpikir statistis (TKBS), sedangkan data disposisi statistis mahasiswa diperoleh dengan menggunakan skala disposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan peningkatan kemampuan berpikir statistis mahasiswa yang signifikan antara kelas kontrol, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Peningkatan kemampuan berpikir statistis mahasiswa yang menggunakan pembelajaran MEAs yang dimodifikasi lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Ada perbedaan peningkatan disposisi statistis mahasiswa yang signifikan antara kelas kontrol, kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2. Peningkatan disposisi statistis mahasiswa yang menggunakan pembelajaran MEAs yang dimodifikasi lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Kata kunci: DDR, Kemampuan berpikir statistis, MEAs yang dimodifikasi

MEMBANGUN KEAKTIFAN MAHASISWA PADA PROSES PEMBELAJARAN MATA KULIAH PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONSTRUTIVISME DALAM KEGIATAN LESSON STUDY

Abstrak: Mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan Program Pengajaran Matematika merupakan salah satu mata kuliah wajib yang dipelajari oleh mahasiswa calon guru matematika. walaupun mahasiswa memiliki nilai yang cukup baik pada mata kuliah ini, ternyata pada proses pembelajaran yang berlangsung hingga saat ini masih didominasi oleh pendekatan teacher centered. Mahasiswa cenderung pasif dan diam sepanjang proses pembelajaran berlangsung, dan dosen mendominasi dengan metode ceramah. Hal ini menjadi ironi, karena pada saat ini mahasiswa calon guru dikenalkan pada pendekatan konstruktivisme, yaitu pendekatan yang berpusat pada siswa. Dengan pendekatan ini diharapkan pengetahuan tidak lagi dipindahkan melalui ceramah melainkan dibangun sendiri oleh individu yang belajar. Salah satu upaya peningakatan kualitas pembalajaran dapat dilakukan melalui kegiatan lesson study. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran melalui kegiatan lesson study maka perlu dikaji tentang bagaimana keaktifkan dan ketuntasan belajar mahasiswa dalam proses pembelajaran pada mata kuliah P4M yang menggunakan pendekatan konstrutivisme dengan latar kooperatif. Sesuai dengan objek yang ingin dikaji maka penelitian ini meruapakan penelitian kualitatif, terdiri dari tiga siklus dengan subyek penelitian mahasiswa yang mengambil mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan Program Pembelajaran Matematika pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012 kelas A pada Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNS. Berdasarkan hasil analisis data yang terdiri dari kegiatan (1) mereduksi data; (2) menyajikan data; (3) membuat temuan dan (5) melakukan triangulasi diperoleh kesimpulan bahwa bahwa keaktifan mahasiswa dalam proses pembelajaran pada mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan Program Pengajaran Matematika dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dan latar kooperatif terlihat dominan muncul pada kegiatan kelompok atau lebih cenderung terbangun oleh situasi sosiologis konstruktivisme. Ketuntasan belajar mahasiswa pada mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan Program Pengajaran Matematika dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dan latar kooperatif diindikasikan mengalami peningkatan seiring peningkatan keaktifan mahasiswa pada proses pembelajaran yang berlangsung.
Kata kunci: konstruktivisme, kooperatif, aktivitas, ketuntasan

PENERAPAN TEORI PERKEMBANGAN MENTAL PIAGET PADA KONSEP KEKEKALAN PANJANG

Abstrak: Menurut teori perkembangan mental dari Piaget, ada 4 tahapan perkembangan kognitif pada anak, yaitu: 1) Tahap sensori motor, yaitu dari lahir sampai usia sekitar 2 tahun; 2) Tahap pre operasi, yaitu dari usia sekitar 2 tahun sampai sekitar 7 tahun; 3) Tahap operasi konkrit, yaitu dari usia sekitar 7 tahun sampai sekitar 11-12 tahun; dan 4) Tahap operasi formal, yaitu dari usia dari sekitar 11 tahun sampai dewasa.
Setiap tahapan perkembangan mental mempunyai sifat atau ciri khas masing-masing. Salah satu ciri yang dimunculkan pada tahap operasi kongkrit diantaranya yaitu bahwa pada tahap ini anak sudah mulai memahami konsep kekekalan. Diantaranya konsep kekekalan panjang (7 – 8 tahun). Tentu saja hal itu ditujukan untuk anak-anak luar negeri dimana Jean Piaget melakukan penelitian, yaitu di Negara Swiss.
Pertanyaannya adalah apakah tahapan perkembangan anak berlaku juga pada anak di negara kita. Hasil penelitian yang kami lakukan menunjukkan bahwa, ada anak yang sesuai dengan usianya berada pada tahapan operasi kongkrit ternyata belum memahami konsep kekekalan panjang.
Kata kunci: Teori perkembangan mental, Konsep kekekalan Panjang

HUBUNGAN ANTARA SELF-CONCEPT TERHADAP MATEMATIKA DENGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK SISWA

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dan mendeskripsikan hubungan berpikir kreatif dengan self-concept Desain penelitian ini adalah survey. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen berupa tes kemampuan berpikir kreatif dan skala self-concept siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 13 Jakarta dengan sampel penelitian siswa kelas VII sebanyak dua kelas yang dipilih secara cluster random sampling. Analisis data dilakukan secara kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data kemampuan berpikir kreatif dan data self-concept. Instrumen yang digunakan sebanyak 12 soal tes kemampuan berpikir kreatif dan 31 pernyataan mengenai self-concept. Dalam perhitungan ujicoba intrumen menggunakan program Anates dan perhitungan statistik menggunakan SPSS 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-concept mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif siswa.
Kata kunci: Kemampuan Berpikir kreatif dan Self-concept

MENUMBUHKAN DAYA NALAR (POWER OF REASON) SISWA MELALUI PEMBELAJARAN ANALOGI MATEMATIKA

Abstrak: Pembelajaran analogi matematika merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam rangka menumbuhkan daya nalar (power of reason) siswa. Melalui analogi matematika siswa dituntut untuk dapat mencari keserupaan atau keterkaitan sifat dari dua konsep yang sama atau berbeda melalui perbandingan, selanjutnya menarik suatu kesimpulan dari keserupaan tersebut. Dengan demikian analogi dapat digunakan sebagai penjelasan atau sebagai dasar penalaran. Sebelum memulai pembelajaran analogi matematika, sebaiknya guru memeriksa kemampuan pemahaman konsep matematika siswa, karena tingkat pemahaman siswa akan berpengaruh kepada daya nalarnya. Tugas (soal-soal) analogi matematika termasuk soal non rutin, oleh karenanya diperlukan kesiapan guru dalam membuatnya. Pada setiap soal analogi matematika termuat konsep yang sama atau berbeda, sehingga dibutuhkan materi yang cukup banyak. Langkah-langkah membuat soal analogi matematika, adalah : a) susunlah semua konsep dalam matematika yang telah dipelajari siswa ; b) susun pula sifat-sifat / hubungan yang terdapat dalam setiap konsep, dan c) pilih materi-materi yang mempunyai sifat / hubungan yang dapat dianalogikan. Dalam tulisan ini diberikan dua bentuk soal analogi matematika yaitu analogi matematika model 1 dan analogi matematika model 2. Pembelajaran analogi matematika sebaiknya dilaksanakan setelah sejumlah konsep dipelajari. Ada baiknya diberikan di kelas-kelas akhir karena banyak konsep yang telah dipelajari oleh siswa. Daya nalar (power of reason) siswa menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran untuk mengantarkan mereka menuju masa depannya sebagai warga negara yang cerdas, yang akan dipimpin oleh daya nalar (otak) dan bukan dengan kekuatan (otot) saja. Sebagaimana dikemukakan oleh mantan Presiden AS Thomas Jefferson (dalam Copi,1978:vii) yang menyatakan : ”In a republican nation, whose citizens are to be led by reason and persuasion and not by force, the art of reasoning becomes of  first importance”
Kata kunci: Daya nalar, analogi matematika

MEMBANGUN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Abstrak: Sampai saat ini peran guru dalam membangun kemampuan komunikasi matematis siswa khususnya dalam pembelajaran matematika masih sangat terbatas. Kemampuan komunikasi merupakan aspek yang sangat penting yang perlu dimiliki oleh siswa yang ingin berhasil dalam studinya. Senada dengan itu, menurut Kist (Clark, 2005) kemampuan komunikasi yang efektif merupakan kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa untuk semua mata pelajaran.
Kemampuan komunikasi matematis (mathematical communication) dalam pembelajaran matematika sangat perlu untuk dikembangkan. Hal ini karena melalui komunikasi matematis siswa dapat mengorganisasikan berpikir matematisnya baik secara lisan maupun tulisan. Di samping itu, siswa juga dapat memberikan respon yang tepat antar siswa dan media dalam proses pembelajaran. Bahkan dalam pergaulan bermasyarakat, seseorang yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik akan cenderung lebih mudah beradaptasi dengan siapa pun dimana dia berada dalam suatu komunitas, yang pada gilirannya akan menjadi seorang yang berhasil dalam hidupnya.
Dalam tulisan ini, penulis menyajikan tentang pengertian kemampuan komunikasi matematis, dengan cakupan dua hal yakni kemampuan siswa menggunakan matematika sebagai alat komunikasi (bahasa matematika), dan kemampuan siswa mengkomunikasikan matematika yang dipelajari sebagai isi pesan yang harus disampaikan. Bagaimana dan mengapa komunikasi penting untuk membangun suatu komunitas matematis melalui jalur komunikasi terbuka di dalam kelas.
Kata kunci: komunikasi matematis, matematika sebagai bahasa, aktivitas social

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN INTERAKTIF SETTING KOOPERATIF (PISK) TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN TRIGONOMETRI SISWA KELAS X SEMESTER I SMA NEGERI 5 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Apakah terdapat perbedaan pengaruh antara pembelajaran  interaktif  setting  kooperatif  dengan  pembelajaran  langsung, pada  pokok  bahasan trigonometri.  (2)  Apakah  terdapat  perbedaan  antara  gaya  belajar  siswa  kategori  tinggi,  sedang, dan rendah terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan trigonometri .(3) Apakah terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan gaya belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan trigonometri. Penelitian ini merupakan metode eksperimen semu. Populasi adalah  siswa kelas X SMA N 5 Madiun Tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 6 kelas. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X 5  dan X 6  yang dilakukan dengan cluster  random  sampling. Teknik  pengambilan  data  adalah  dokumen  untuk  data  prestasi  mid semester  X  sebelum  eksperimen  dan  tes  untuk  data  prestasi  belajar  siswa  pada  pokok  bahasan trigonometri. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan 2 x 3 dengan sel tak sama. Pengujian prasyarat analisis dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov untuk uji normalitas  dan  metode  Bartlett  untuk  uji  homogenitas.  Berdasar  hasil  penelitian  dapat disimpulkan bahwa : (1) Ada perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran  menggunakan  metode  PISK  dengan  siswa  yang  mengikuti  pembelajaran menggunakan  metode  pembelajaran  langsung.  Pembelajaran  menggunakan  metode  PISK menghasilkan  prestasi  belajar  matematika  yang  lebih  baik  jika  dibandingkan  dengan  metode pembelajaran langsung. (Fobs =18.815 > 4.00687 = Ftab pada taraf siginifikansi 5% dan rataan marginalnya 7.00 > 6.5991). (2) Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan gaya belajar visual,  auditorial,  dan  kinestik  pada  pokok  bahasan  trigonometri.  (Fobs  =109,254  >  4.00687  = Ftab  pada  taraf  siginifikansi  5%).  Dari  hasil  tersebut  dilakukan  uji  pasca  anava  yang menghasilkan (a) Siswa yang memiliki gaya belajar visual mempunyai prestasi belajar lebih baik dibandingkan  dengan  siswa  yang  memiliki  gaya  belajar  auditorial  (p-value  <  0.05).  (b)  Siswa yang  memiliki  gaya  belajar  auditorial  mempunyai  prestasi  belajar  lebih  baik  dibangdingkan siswa yang memiliki gaya belajar kinestik (p-value < 0.05). (3) Tidak ada interaksi antara metode pembelajaran  PSIK  dengan  pembelajaran  langsung  terhadap  prestasi  belajar  matematika  siswa (Fobs = 1,421 < 3,15593 = Ftab pada taraf siginifikansi 5%), sehingga tidak perlu dilakukan uji pasca anava.
Kata Kunci:  Pembelajaran Interaktif  Setting Kooperatif (PISK), Pembelajaran Langsung, Gaya Belajar
 
Support : E-JURNAL | PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2013. E-JURNAL - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai
Proudly powered by Blogger