Profil Pemberian Cairan Perioperatif serta Pengaruhnya terhadap Keseimbangan Asam Basa, Elektrolit, dan Kadar Glukosa Darah
Abstrak: Pemberian cairan
intravena perioperatif yang tidak tepat dapat menimbulkan komplikasi asidosis
metabolik, hiponatremia, hipoglikemi, atau hiperglikemia.
Tujuan. Mengetahui profil pemberian cairan perioperatif serta pengaruhnya
terhadap keseimbangan asam basa, elektrolit dan gula darah serum.
Metode. Studi deskriptif kohort prospektif pada anak yang menjalani tindakan
bedah elektif di RSCM. Pada subyek dilakukan pemeriksaan laboratorium sesaat
sebelum dan setelah tindakan bedah, serta 6 jam setelah pemberian cairan
postoperatif.
Hasil. Terdapat 61 subyek, 65,6% tidak mendapat cairan preoperatif.
Cairan terbanyak digunakan intraoperatif adalah ringer asetat malat (RAM) (77%)
dan untuk postoperatif adalah kristaloid hipotonik (83,6%). Jumlah cairan
preoperatif dan postoperatif sebagian besar sesuai formula Holliday-Segar.
Subyek yang mendapat cairan preoperatif D10 1/5 NS + KCl (10) lebih banyak
mengalami hiponatremia (13,4% vs 5%) dan gangguan kadar gula darah (20% vs 0%)
dibandingkan dengan yang tidak mendapat cairan. Asidosis metabolik kelompok
cairan intraoperatif RAM (36,2%) maupun Ringer asetat (36,4%). Hiponatremia
pasca cairan postoperatif 57,1% subyek yang tidak mendapat cairan, 44,4% pada
kelompok KA-EN3B®, dan 21,9% pada kelompok D10 1/5 NS + KCl (10). Hiperglikemia
15,6% subyek yang mendapat D10 1/5 NS + KCl (10).
Kesimpulan. Pemberian cairan perioperatif di RSCM bervariasi. Angka
kejadian hiponatremia pasca pemberian kristaloid hipotonik 13,4%-44,4%.
Hiponatremia dan gangguan kadar gula darah terjadi pada subyek yang mendapat
cairan D10 1/5 NS + KCl (10).
Kata Kunci: cairan
perioperatif; kristaloid hipotonik; hiponatremia
Penulis: Ratih Puspita,
Antonius Pudjiadi, Hardiono Pusponegoro, Sudung Pardede O Pardede, Mulya R
Karyanti, Rosalina D Roeslani
Kode Jurnal: jpkedokterandd160675