DETEKSI PEPSIN PADA PENDERITA REFLUKS LARINGOFARING YANG DIDIAGNOSIS BERDASARKAN REFLUX SYMPTOM INDEX DAN REFLUX FINDING SCORE
Abstrak: Diperkirakan lebih
dari 50% pasien dengan gangguan suara yang datang berobatke dokter THT
diakibatkan oleh refluks laringofaring (RLF). Diduga RLF berperan pada
patogenesissejumlah kelainan pada laring, termasuk stenosis subglotik,
karsinoma laring, laryngeal contact ulcers,laringospasme dan vokal nodul pada
pita suara. Pemeriksaan ambulatory 24 hour double-probe pHmonitoring merupakan
gold standard untuk mendiagnosis RLF, namun pemeriksaan ini masih jauh
darikriteria ideal. Menentukan adanya pepsin pada sekret saluran napas
merupakan petanda diagnostik yangsensitif untuk RLF karena pepsin tidak
dihasilkan oleh sel apapun dalam saluran napas. Tujuan: Penelitianini bertujuan
mendeteksi keberadaan pepsin pada penderita refluks laringofaring yang
didiagnosisberdasarkan refluks symptom index (RSI) dan reflux finding score
(RFS). Metode: Jenis penelitian iniadalah komparatif kuantitatif. Dilakukan
pemeriksaan RSI dan RFS pada 51 percontoh dan dilanjutkandengan pemeriksaan
pepsin saliva menggunakan metode ELISA pada 48 percontoh lalu dilakukan
ujiSpearman’s Rho. Hasil: Skor RSI >13 sebanyak 48 percontoh (94,12%) dan
skor RFS >7 sebanyak 51percontoh (100%). Pepsin terdeteksi pada saliva semua
percontoh. Tidak ada hubungan yang bermaknaantara skoring RSI dan RFS dengan
kadar pepsin pada saliva (p>0,01). Kesimpulan: RSI dan RFS dapatdigunakan
dalam menegakkan diagnosis RLF.
Kata kunci: refluks
laringofaring, reflux symptom index, reflux finding score, pepsin
Penulis: Yunida Andriani,
Muhammad Amsyar Akil, Masyita Gaffar, Abdul Qadar Punagi
Kode Jurnal: jpkedokterandd110301