UJI EFEK HAMBATAN ATORVASTATIN TERHADAP PEMBENTUKAN SKAR HIPERTROFI PADA KELINCI NEW ZEALAND (Kajian terhadap morfologi klinis ketinggian jaringan skar, Scar Elevation Index, kepadatan kolagen, dan ekspresi VEGF)
Abstract: Skar hipertrofi dan
keloid bagian dari jaringan parut patologis yang insiden kejadiannya masih
tinggi. Keduanya mengganggu secara estetik, fisiologik, psikologik, dan sering
tumbuh kembali setelah pengobatan. Belum ada terapi standar baku emas untuk
skar hipertrofi dan keloid. Efek pleiotropik statin berpotensi sebagai anti
skar baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hambatan pembentukan
skar hipertrofi dengan pemberian salep atorvastatin pada model luka skar di
telinga kelinci New Zealand. Kelinci New Zealand usia 4-6 bulan (n=29)
dilakukan randomisasi kedalam lima kelompok. Setelah aklimatisasi 1 minggu,
dilakukan pembuatan luka model skar hipertrofi pada kedua telinga kelinci
dengan punch biopsy (d=8 mm). Jumlah luka 2 buah di masing- masing telinga
kanan dan kiri. Pada hari ke-7 setelah punch biopsy, kelompok I, II, III dioles
salep atorvastatin dengan konsentrasi masing-masing 5%, 10%, dan 20%. Kelompok
IV dioles salep clobetasol propionate 0,05% sebagai kontrol positif, dan
kelompok V dioles dengan basis salep (lanolin vaselin 1:1) sebagai kontrol
negatif. Frekuensi pengolesan salep pada luka ditelinga kelinci tersebut 1
kali/hari, dengan lama pengolesan selama 50 hari kedepan. Setiap hari dilakukan
pengukuran morfologi klinis ketinggian skar. Pada hari ke 56 setelah punch
biopsy, dilakukan penilaian akhir morfologi klinis jaringan skar hipertrofi,
kemudian kelinci didekapitasi, diambil jaringan skar hipertrofi kemudian dibuat
preparat histologis (HE, Von Gieson) dan imunohistokimia (VEGF). Salep
atorvastatin 5% mampu menghambat pembentukan skar hipertrofi pada telinga
kelinci New Zealand dengan nilai median skoring ketinggian jaringan skar
sebesar 1(1-3), nilai SEI rata-rata sebesar 1,49±0,37 mm, dan nilai ekspresi
VEGF sebesar 12,71±4,27%. Salep atorvastatin 5% mempunyai potensi untuk
dikembangkan sebagai obat penghambat pembentukan skar hipertrofi baru dengan
mekanisme penghambatan terhadap VEGF. Untuk pengembangan obat ini diperlukan
penelitian lebih lanjut mengenai kapan waktu yang paling tepat mulai dioleskan
salep atorvastatin setelah terjadi luka berisiko terbentuknya skar hipertrofi.
Kata kunci: Atorvastatin, skar
hipertrofi, VEGF, telinga kelinci
Penulis: Devi Usdiana
Rosyidah, Indwiani Astuti, Sitarina Widyarini
Kode Jurnal: jpkedokterandd180015