Prevalensi dan Pola Sensitivitas Enterobacteriaceae Penghasil ESBL di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
Abstract: Resistensi
antibiotik merupakan masalah besar baik di rumah sakit maupun di masyarakat,
resistensi menyebabkan pilihan terapi infeksi menjadi terbatas. Prevalensi
resistensi antibiotik cenderung makin meningkat, salah satu diantaranya adalah
bakteri ESBL (extended spectrum beta lactamases), suatu kelompok bakteri
penghasil enzim yang dapat menghidrolisis antibiotik beta laktam yang
mengandung grup oxyimino seperti sefalosporin generasi satu sampai ketiga dan
aztreonam. Penelitian ini dilakukan
secara deskriptif retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui prevalensi ESBL
pada Klebsiella pneumoniae dan Escherichia coli, serta pola sensitivitasnya di
RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Data diambil dari hasil kultur bakteri dan uji
resistensi antibiotik dari berbagai spesimen klinik yang diperiksa di
Laboratorium Mikrobiologi RSUD Arifin Achmad selama tahun 2015. Uji ESBL
dilakukan dengan alat VITEK 2 compact yang membandingkan antara proporsi
penurunan pertumbuhan bakteri terhadap antibiotik sefalosporin saja dengan
antibiotik kombinasi sefalosporin ditambah asam klavulanat. Hasil penelitian
menunjukkan ESBL-K. pneumoniae sebesar 66,2%, dan ESBL-E. coli 62,2%, dan total
rata-rata pada kedua bakteri 65,2%. Prevalensi ESBL-K. pneumoniae dan ESBL-E.
coli paling tinggi berasal dari ruangan Instalasi Perawatan Intensif Anak dan
berasal dari spesimen sputum dan pus, namun secara statistik tidak didapatkan
perbedaan bermakna proporsi ESBL positif dan negatif berdasarkan asal ruangan
dan jenis spesimen. Sensitivitas ESBL-K. pneumoniae dan ESBL-E. coli paling
baik dengan antibiotik golongan karbapenem, amikasin dan tigesiklin. Penelitian
ini menunjukkan tingginya prevalensi K. pneumoniae dan E. coli penghasil ESBL
di RSUD Arifin Achmad dibanding beberapa rumah sakit rujukan nasional dii
Indonesia. Saran untuk menurunkan angka ESBL dengan cara mencegah transmisi
melalui penerapan kewaspadaan kontak dan kewaspadaan berbasis transmisi, aspek
pencegahan dan pengendalian infeksi dan peningkatkan rasionalisasi penggunaan
antimikroba harus dilakukan.
Keywords: ESBL; Escherichia
coli; Klebsiella pneumonae; pola sensitivitas
Penulis: Dewi Anggraini,
Uswathun Hasanah Sholihin, Maya Savira, Fauzia Andrini Djojosugito, Dino Irawan,
Ruza Prima Rustam
Kode Jurnal: jpkedokterandd180003