Pengaruh Natrium Sulfida (Na2S) pada Proses Pengapuran terhadap Uji Fisik Kulit Samak Ikan Buntal (Arothon reticularis)
Abstract: Kulit ikan bisa
digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk industri penyamakan kulit
mengingat keterbatasan bahan baku kulit mentah hewan darat. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh penggunaan Natrium Sulfida pada
proses pengapuran yang berbeda konsentrasinya pada hasil uji fisik kulit ikan
buntal, yang meliputi uji kuat tarik, kemuluran dan kuat sobek. Penelitian
inimenggunakan kulit ikan buntal awet garaman sejumlah 9 lembar yang disamak
menggunakan bahan penyamak nabati (mimosa), sampai menjadi kulit crust ikan
buntal. Perlakuan penggunan variasikonsentrasi Natrium Sulfida yang digunakan
saat proses pengapuran adalah 0,5%, 1% dan 1,5%. Masingmasing perlakuan
tersebut diulang sebanyak tiga kali, kemudian dilakukan uji fisik menggunakan
alat tensile strength. Penggunaan konsentrasi Na2S 1% menunjukkan nilai
Kekuatan Tarik yang paling tinggi yaitu sebesar 1394.172 N/cm2, dan nilai
kemuluran yang paling rendah yaitu sebesar 57.707 %, dan nilai kekuatan sobek
yang paling tinggi ditunjukan oleh penggunan konsentrasi Na2S 0,5% yaitu
sebesar181.978 N/cm. Penggunaan variasi konsentrasi Natrium Sulfida memberikan
pengaruh berbeda nyata terhadap kekuatan tarik, namun tidak memberikan pengaruh
yang berbeda nyata terhadap kemulurandan kekuatan sobeknya. Berdasarkan hasil
rekapitulasi data rataan, nilai kekuatan tarik, kemuluran dan kekuatan sobek
sampel kulit ikan buntal tersamak belum memenuhi persyaratan standar mutu.Kulit
ikan bisa digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk industri penyamakan
kulit mengingatketerbatasan bahan baku kulit mentah hewan darat. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh penggunaan Natrium Sulfida pada
proses pengapuran yang berbeda konsentrasinya padahasil uji fisik kulit ikan
buntal, yang meliputi uji kuat tarik, kemuluran dan kuat sobek. Penelitian
inimenggunakan kulit ikan buntal awet garaman sejumlah 9 lembar yang disamak
menggunakan bahanpenyamak nabati (mimosa), sampai menjadi kulit crust ikan
buntal. Perlakuan penggunan variasikonsentrasi Natrium Sulfida yang digunakan
saat proses pengapuran adalah 0,5%, 1% dan 1,5%. Masingmasingperlakuan tersebut
diulang sebanyak tiga kali, kemudian dilakukan uji fisik menggunakan
alattensile strength. Penggunaan konsentrasi Na2S 1% menunjukkan nilai Kekuatan
Tarik yang paling tinggiyaitu sebesar 1394.172 N/cm2, dan nilai kemuluran yang
paling rendah yaitu sebesar 57.707 %, dannilai kekuatan sobek yang paling
tinggi ditunjukan oleh penggunan konsentrasi Na2S 0,5% yaitu sebesar181.978
N/cm. Penggunaan variasi konsentrasi Natrium Sulfida memberikan pengaruh
berbeda nyataterhadap kekuatan tarik, namun tidak memberikan pengaruh yang
berbeda nyata terhadap kemulurandan kekuatan sobeknya. Berdasarkan hasil
rekapitulasi data rataan, nilai kekuatan tarik, kemuluran dankekuatan sobek
sampel kulit ikan buntal tersamak belum memenuhi persyaratan standar mutu.
Keywords: kulit ikan buntal,
Kuat Fisik, Pengapuran, Penyamakan Kulit
Penulis: Susanti Rahayu, RLM
Satrio Ari Wibowo, Titik Anggraini
Kode Jurnal: jpperikanandd150802