MENGENAL LEBIH DEKAT KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) HASIL BUDIDAYA
Abstract: Kerapu bebek/kerapu
tikus/humpback grouper (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu komoditas
perikanan budidaya laut yang memiliki nilai jual tinggi. Sebelum berkembangnya
kerapu hibrid, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol,
sudah berhasil mengembangkan pembenihan ikan kerapu bebek meskipun sintasan
yang diperoleh masih bervariasi. Pemantauan benih hasil budidaya sebagian besar
terfokus pada pertumbuhan dan jika sudah mencapai ukuran konsumsi bisa dijual
atau diekspor ke Hongkong. Sebagai institusi penelitian nampaknya masih perlu
mengupas lebih detail komoditas yang dikembangkan. Beberapa catatan yang dapat
diperhatikan, untuk lebih mengenal komoditas kerapu bebek, sebelum dijadikan
sebagai ikon jenis ikan yang pernah memiliki masa kejayaan, karena saat ini
popularitasnya relatif menurun karena ada larangan ekspor dan masuk dalam satwa
CITES. Catatan tersebut antara lain; kerapu bebek selama fase yuwana (2-3
bulan) dapat dijadikan sebagai kandidat ikan hias dengan performasi bintik
bintik hitam pada permukaan tubuh yang merupakan keunikan tersendiri, karena
jumlah dan polanya berbeda antara satu individu dengan yang lainnya serta akan
bertambah jumlahnya seiring dengan bertambahnya umur dan bobot badan.
Spot/bintik hitam kemungkinan identik dengan sidik jari manusia, yang bisa
digunakan untuk membedakan antara satu individu dengan individu lainnya dalam
satu populasi. Gonad kerapu bebek turunan pertama (F1) dengan umur dan kisaran
bobot badan yang kurang lebih sama (600-900 g), menunjukkan 95% berada pada
fase betina. Sementara pematangan dan pembentukan gonad jantan pada kerapu
bebek hasil budidaya dapat dipacu dengan rangsangan hormonal dan pemberian
pakan segar dengan kualitas yang baik. Dari hasil pengamatan diperoleh informasi
bahwa kerapu bebek hasil budidaya dapat memijah dengan baik dan menghasilkan
turunan generasi kedua (F2), akan tetapi kualitas telur dan larva yang
dihasilkan masih lebih rendah bila dibandingkan dengan larva pemijahan induk
alam (F0).
Keywords: kerapu bebek
(Cromileptes altivelis); hasil budidaya
Penulis: Ida Komang Wardana,
Tridjoko Tridjoko
Kode Jurnal: jpperikanandd150525