PENGEMBANGAN PENGGERAK SOLAR PANEL DUA SUMBU UNTUK MENINGKATKAN DAYA PADA SOLAR PANEL TIPE POLIKRISTAL
Abstract: Negara Indonesia
merupakan negara dengan iklim tropis yang merupakan kekayaan tersendiri yang
kita miliki. Sinar matahari dapat kita manfaatkan dengan menggunakan panel
surya. Sel surya merupakan salah satu devais untuk “memanen” energi matahari
terbarukan yang terus dikembangkan. Penggunaan sel surya memiliki banyak
keuntungan diantaranya: tidak membutuhkan bahan bakar fosil, polusi yang kecil
dan biaya perawatan yang kecil. Karakteristik energi yang dihasilkan sel surya
sangat dipengaruhi oleh radiasi sinar matahari, temperatur, dan posisi sel
surya terhadap sinar matahari. Untuk mengoptimalkan energy matahari,
pengembangan penggerak panel surya 2 sumbu sangat diperlukan, karena penyerapan
energy matahari oleh panel surya akan lebih optimal jika tegak lurus dengan
matahari. Prototipe ini didesain agar panel surya mampu senantiasa tegak lurus
dengan matahari dengan menggunakan Arduino Nano 3.0 Atmega 328 CH340G sebagai
control otomatis, serta komponen lain seperti sensor cahaya (LDR) dan motor DC.
Prinsip kerja dari mikrokontroler ini dalam penggerak panel surya 2 sumbu ini
yaitu output dari sensor LDR diolah oleh mikrokontroler Arduino Nano 3.0 Atmega
328 CH340G dengan menggunakan bahasa pemrograman. Apabila sensor LDR tidak
tegak lurus terhadap matahari, maka akan memiliki nilai tahanan yang berbeda.
Jika terjadi perbedaan maka mikrokontroler akan merespon dan menggerakkan motor
agar medapat nilai resistansi yang sama. Dari hasil pengujian dengan
membandingkan panel surya yang statis, dengan pengerak 1 sumbu dan dengan
penggerak 2 sumbu, didapat bahwa panel surya yang dilengkapi dengan penggerak 2
sumbu memiliki daya serap energy matahari yang lebih optimal. Hal ini
dibuktikan dengan pengukuran tegangan listrik yang dihasilkan panel surya lebih
besar apabila dibandingkan dengan panel surya yang statis maupun yang dengan
penggerak 1 sumbu. Dari data yang didapat, terjadi peningkatan tegangan mulai
pukul 09.00 dan tegangan maksimal yang didapat terjadi pada pukul 12.00,
setelah itu terjadi penurunan tegangan yang dihasilkan.
Penulis: Wendryanto ., Gede
Widayana, S.T., M.T. ., I Wayan Sutaya, S.T., M.T
Kode Jurnal: jptmesindd170223