Ekosistem Lamun sebagai Bioindikator Lingkungan di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara
ABSTRAK: Ekosistem lamun dapat
dijadikan sebagai suatu bioindikator kesehatan lingkungan selain berperan
sebagai tempat mencari makan, membesarkan anakan, atau sebagai tempat memijah.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 17-22 Mei 2014 di Pulau Lembeh dan
Tanjung Merah, Bitung. Tujuan penelitian ini mendapatkan kondisi eksisting
ekosistem lamun dan peranannya sebagai bioindikator perairan. Metode
pengambilan sampel secara purposive sampling yang mewakili seluruh lokasi
penelitian. Analisis sampel yang dilakukan adalah analisis struktur komunitas
untuk menggambarkan kondisi eksisting lamun dan metode skoring/bobot untuk mengestimasikan
kondisi ekosistem lamun. Terdapat tujuh spesies lamun yang ditemukan dengan
penutupan berkisar antara 10–50 %. Stasiun di Pulau Lembeh yang berhadapan
dengan daratan Bitung 75 % monospesies Enhalus acoroides sedangkan stasiun
lainnya padang lamun campuran. Nilai INP (Indeks Nilai Penting) spesies
terbesar adalah Enhalus acoroides (231–300 %), Thalassia hemprichii (102–198 %)
dan Halophila ovalis (110 %). Berdasarkan sistem pembobotan dan baku mutu
kondisi lingkungan ekosistem lamun di Pulau Lembeh yang menghadap daratan
Bitung dalam kondisi rusak dan kurang sehat, sedangkan yang berhadapan langsung
dengan laut lepas dalam kondisi baik, kaya, dan sehat. Hal ini dapat disebabkan
dari limbah daratan Bitung yang terperangkap di ekosistem lamun sehingga
terjadi kerusakan. Diperlukan kemauan masyarakat untuk tidak membuang sampah ke
laut, sehingga lingkungan perairan dapat terjaga dengan baik.
Penulis: Agustin Rustam, Terry
L. Kepel, Mariska A. Kusumaningtyas, Restu Nur Afi Ati, August
Kode Jurnal: jpbiologidd150839