RAMUAN HERBAL NON INSTAN DALAM NASKAH KITAB TIB SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN
Abstract: “Back to nature”, kalimat tersebut sering
terdengar di telinga dan terbaca, baik melalui media audio maupun media visual.
Jika diperhatikan dengan sesungguhnya, kata tersebut mengandung makna yang
dalam dan sangat sesuai dengan kondisi dunia yang memasuki fase global warming
yang mengakibatkan ketahanan tubuh manjadi rentan terhadap penyakit. Artinya,
manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt dengan mudah didatangi penyakit, baik
fisik maupun psikis, bahkan keduanya kadangkala datang bersamaan. Masyarakat
berekonomi menengah ke atas, dengan segera dapat pergi berobat ke dokter.
Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, mereka terpaksa menderita
sakit berkepanjangan sebab tidak mampu berobat ke dokter yang memerlukan banyak
dana. Apakah keadaan itu dibiarkan saja? Tentu tidak, karena masih ada
alternatif pengobatan yakni kembali kepada pengobatan yang alami. Masyarakat
dapat memanfaatkan tumbuh-tumbuhan untuk mengobati berbagai jenis penyakit
sebagaimana kebiasaan masyarakat dahulu yang tertulis dalam naskah-naskah
Melayu. Naskah sebagai warisan budaya apabila tidak digali kandungan isinya
maka tetap saja tidak akan memberikan kontribusi kepada masyarakat. Artinya
naskah tidak akan memiliki arti penting jika kandungannya tidak dapat
dimanfaatkan. Sekarang, herbal instan dengan berbagai merek banyak beredar di
tengah masyarakat namun harganya sangat tinggi atau mahal. Oleh karena itu,
sebaiknya dimanfaatkan herbal non instan yang banyak tumbuh di tanah yang subur
ini bahkan mudah mendapatkannya. Tulisan ini mencoba mengkaji ramuan herbal non
instan yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang menimpa manusia,
terutama penyakit pada bagian kepala sebagaimana yang terkandung dalam naskah
Kitab Tib Melayu yang tersimpan di Perpustakaan Nasional di Jakarta dengan kode
W.227
Penulis: Ellya Roza
Kode Jurnal: jpantropologidd140108