METODE TRANSFORMASI KAIDAH ESTETIS TARI TRADISI GAYA SURAKARTA
ABSTRAK: Tulisan ini
difokuskan pada analisis metode transformasi kaidah estetis tari tradisi gaya
Surakarta. Transformasi kaidah estetis tari tradisi ini tidak dapat dipisahkan
dengan perwatakan tari seperti endhel atau branyak dan oyi atau luruh untuk
tari putri, tari putra alus adalah luruh dan lanyap, madyataya atau katongan,
dan tari putra gagah yaitu kambeng, kalang kinantang, bapang kasatrian, dan
bapang jeglong. Setiap perwatakan tari itu memiliki sikap laku tari, yaitu
sepuluh patrap beksa: merak ngigel, sata ngetap swiwi, kukila tumiling,
branjangan ngumbara, mundhing mangundah, wreksa sol, anggiri gora, pucang
kanginan, sikatan met boga, dan ngangrang bineda. Sikap laku tari ini harus
mengikuti disiplin sikap tubuh yaitu: adeg doran katangi, ulat tajem, janggut,
jangga, jangga nglung gadung, jaja mungal, pupu merendah, cingklok angglong,
dan dlamakan malang. Elemen dasar tari, yakni wiraga, wirama, dan wirasa yang
dijabarkan oleh norma estetis Hastha Sawanda, yaitu: pacak, pancat, ulat, lulut,
wilet, luwes, wirama, dan gendhing, yang
memiliki kedalaman nilai filosofis
sengguh, lungguh, dan mungguh.Kata kunci: hastha sawanda, estetis,
koreografi, tari tradisi
Penulis: Bekti Budi Hastuti,
Supriyanti
Kode Jurnal: jpantropologidd150102