DARI SOFT POWER JEPANG HINGGA HIJAB COSPLAY
Abstrak: Tulisan ini membahas
tentang penggunaan soft power Jepang di Indonesia, salah satunya melalui
cosplay. Tulisan ini juga merupakan identifikasi awal mengenai fenomena hijab
cosplay di Indonesia. Menggunakan konsep S. Nye. Jr, soft power didefinisikan
sebagai kemampuan suatu negara untuk mencapai tujuannya dengan lebih
menggunakan daya tarik budaya daripada paksaan dan kekerasan. Setelah Perang
Dunia II, Jepang berupaya mengubah citra buruk negaranya melalui budaya populer
yang dimiliki, seperti anime, manga, dan cosplay yang disebarkan ke seluruh
dunia. Menurut Nye, Jepang memiliki sumber-sumber soft power yang lebih
potensial dibandingkan dengan negara lain di Asia. Penelitian ini berfokus pada
cosplay, terutama para anak muda yang hobi ber-cosplay tetapi tetap ingin
mengikuti nilainilai Islam dengan menutup aurat. Hasil analisis menunjukkan
bahwa ketiga informan cosplayer memiliki kesamaan dalam memaknai hijab cosplay,
yaitu (1) boleh dilakukan selama sesuai dengan aturan dan syariat Islam seperti
menutup aurat dan dada, (2) tidak berpose berlebihan, dan (3) tidak berdempetan
dengan lawan jenis ketika berfoto. Selain itu, ditemukan juga tiga pola sikap
dari tiga informan non-cosplayer terhadap hijab cosplayer, yaitu (1) mendukung,
(2) netral, dan (3) tidak mendukung.
Penulis: Ranny Rastati
Kode Jurnal: jpantropologidd150147