CORAK TASAWUF AL-GHAZALI DAN RELEVANSINYA DALAM KONTEKS SEKARANG
Abstrak: Tak ada yang
membantah kebesaran al-Ghazali. Magnum opusnya di bidang tasawuf, Ihya } ‘ ‘Ulu
m al-Di n, mendapatkan sambutan meriah dan antusiasme dari publik Islam, sejak
dulu hingga sekarang. Di tengah kecenderungan menjauhkan tasawuf dari ajaran
Islam, ImamGhazali menghidangkan tasawuf yang ber > tumpu pada al-Qur’an danHadits.
Kitab Ihya } ‘ ‘Ulu > m al-Di > n dipenuhi dengan rujukan dan kutipan
>dalil-dalil normatif Islam. Etape-etape spiritual seperti zuhud, ridha, tawakkal,
dan lain-lain diberikan pendasaran Qur’anik dan Hadits. Dari sini tak keliru
sekiranya dikatakan bahwa corak tasawuf al-Ghazali > adalah khuluqi-‘amali
dan bukan falsaf. Dengan corak tasawuf ini, al-Ghazali diresepsi umat Islam
secara luas hingga datang Ibn Rusyd yang mengajukan sejumlah keberatan terhadap
al-Ghazali. Namun, kritik orang-orang seperti Ibn Rusyd itu tak menggoyahkan
kedudukan al-Ghazali di mata umat Islam. Argumen-argumen yang di > suguhkan
alGhazali dalam Ih > ya } ‘ ‘Ulu > m al-Di > n terlalu kuat untuk di
> patahkan. Alih-alih patah, di tengah dunia kontemporer Islam yang disesaki
dengan corak dan ekspresi keberislaman yang keras dan tandus, pikiran-pikiran
sufstik al-Ghazali seperti menemukan relevansi dan signifkansi untuk hadir
kembali. Ia menyuguhkan konsep cinta(mahabbah), tauhid (monoteisme), makhafah
(takut), dan ma’rifah (pengetahuan). Menurut al-Ghazali, cinta kepada Allah
harus di wujudkan dalam bentuk cinta kepada seluruh makhluk Allah. Bahwasiapa
yang menyayangi Allah dengan sendirinya menyayangi makhlukmakhluk ciptaan
Allah. Dari konsep tauhid ini lahir misalnya semangat untuk menyatu dengan
Allah dengan cara membersihkan diri dari dosa melalui medium tobat (taubat),
tak mengikatkan diri pada harta dunia (zuhd) karena khawatir terjauh dari
Allah, menyerahkan segala urusan kepada Allah (tawakkul), rela terhadap segala
keputusan dan ketentuan62 Al-Tahrir, Vol. 13, No. 1 Mei 2013 : 61 – 85 Allah
(ridha). Tangga-tangga spiritual ini sekiranya dijalankan secarakonsisten akan
mengantarkan seseorang pada derajat mengetahui Allah (ma’rifat Allah).
Doktrin-doktrin spiritual seperti ini akan tetapberguna. Di tengah masyarakat
modern yang kerap merasa teralienasi, kitab Ihya } ‘ ‘Ulu > m al-Di
n seperti oase yang menyejukkan.
n seperti oase yang menyejukkan.
Penulis: Abd. Moqsith Ghazali
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd130278