ANALISIS WACANA KRITIS FILM “PUTERI GIOK”: CERMIN ASIMILASI PAKSA ERA ORDE BARU
Abstrak: Media massa merupakan
salah satu sarana bagi setiap bangsa untuk memperkenalkan perjalanan sejarahnya
dari masa ke masa. Salah satu perekam jejak yang paling efektif adalah film
nasional. Film nasional dapat merefleksikan proses konstruksi identitas yang
ditampilkan, baik visual maupun nonverbal. Salah satu film nasional yang
menggambarkan hal tersebut adalah “Puteri Giok” yang dibesut oleh Maman
Firmansjah pada tahun 1980. Film tersebut berkisah mengenai konflik tentang asimilasi
melalui relasi seorang remaja putri bernama Han Giok Nio dan Han Tek Liong
sebagai kakaknya. Konflik muncul akibat opini TuanVijay, rekan bisnis Han Liong
Swie, ayah Giok dan Tek Liong, mengenai hubungannya dengan Herman seorang
pribumi. Kemarahannya memuncak hingga menggunduli rambut Giok. Tak pelak, Tek
Liong mendatangi kantor TuanVijay untuk menyadarkannya melalui Pancasila serta
semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dipahaminya sebagai upaya meredam
rasialisme. Peneliti menggunakan wacana Leeuwen untuk menyibak pola bercerita
film yang mengetengahkan tokoh minoritas yang dibungkam dari berbagai tataran
identitasnya, bahkan seakan-akan memperjuangkan terjadinya pembauran. Film ini
memperlihatkan adanya doktrin Pancasila serta subordinasi dari pemangku kebijakan
di era pemerintah Orde Baru melalui BP 7 dan BAKOM PKB serta doktrin Pancasila.
Selain itu, praktik-praktik diskursif berupa “asimilasi paksa” tampak melalui
wacana film.
Penulis: Rustono Farady Marta
Kode Jurnal: jpantropologidd150144