INDIKASI KEESTETIKAAN LINGKUNGAN PERKOTAAN KAWASAN PUSAT KOTA WONOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA FEBRUARI S/D OKTOBER 2015
ABSTRACT: Perkara
ke-estetika-an lingkungan seringkali menjadi suatu intensi seseorang atau
sekelompok masyarakat, dalam menanggapi sesuatu ungkapan ekspresi keindahan
atas tatanan fisik/spasial dan kultural, yang akan dapat menunjukkan eksistensi
kegiatan dan pola aktivitas lingkungan perkotaan tertentu. Premis mayor ini
merupakan landasan penelitian bertema keestetikaan lingkungan perkotaan yang
berbasis pada aspek kultural historiografis, dengan tujuan memperoleh fakta
unsur fisik/spasial dan unsur normatif yang secara eksistensial maupun
arsitektural memiliki potensi determinatif-indikatif dalam upaya mencipta
keestetikaan lingkungan. Penelitian ini merupakan pengembangan tema tipologis
dari penelitian sebelumnya di Kota Cirebon (2012), Kota Yogyakarta dan
Kabupaten Sleman (Kecamatan Depok) DIY (2013).
Lingkungan perkotaan yang diamati dan diteliti difokuskan pada Kawasan
Pusat kota Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Kawasan perkotaan ini memiliki
keterkaitan fungsional maupun normatif eksistensial dan simbolik dengan Karaton
Ngayogyakarta Hadiningrat yang secara historis maupun administratif
mendefinisikan basis model kultur Yogyakarta terkait fenomena perkembangan
fungsi kepariwisataan. Koridor KH.Agus Salim, Brigjen Katamso dan Sugiyapranata
menjadi orientasi spasial utama/primer, yang akan berpendar ke koridor-koridor
sekitarnya dan simpul-simpul sirkulasi strategis lainnya. Ketiga segmen koridor
ini secara spasial perkotaan merupakan simpul strategis atas pertumbuhan
sosial-ekonomi yang langsung berdampak pada perkembangan struktur tatanan rupa
fisik kawasan terkait.Saat ini secara eksistensial / fungsional koridor telah
bertumbuh menjadi area kegiatan campuran secara linier, yang tentu akan dampak
pada nilai strategis yang dimilikinya. Sementara pada ruas koridor lainnya
tetap sebagai fungsi sosial-ekonomi, yang seharusnya juga berfungsi sebagai
pengendali kesinambungan rupa eksistensial tradisi dan budaya, walaupun saat ini
berkembang menjadi jalur sirkulasi kepariwisataan. Dilain pihak kondisi lokasi
ini secara estetis bisa menjadi picu keunikan tata-rupa spasial, yang tetap
memberikan ekspresi nilai strategis kultural karena gejala pertumbuhan dan
pemenuhan peningkatan kebutuhan masyarakat melalui ragam aktivitas dan
kegiatannya berlangsung melalui proses keselarasan antara nilai-budaya tradisi
serta nilai-modernitas kehidupan urban. Metoda kualitatif & kuantitatif
serta analisis visual lingkungan, akan didaya-gunakan terhadap tatanan maupun
ekspresi rupa ragam elemen fisik/spasial panorama perkotaan (“townscape”) dan
di-sintesis padu-padankan dengan norma kultural strategis, perilaku dan pola
aktivitas disepanjang koridor maupun simpul-simpul ruang strategis perkotaan. Berbasis
metoda tersebut diharapkan dapat menunjuk berbagai model indikasi positif
eksistensi nilai-nilai keestetikaan lingkungan. Praduga yang mengemuka pada
observasi awal adalah, bahwa indikasi keestetikaan yang berbasis pada nilai
kultural belum optimal dikelola, selaras dengan pengendalian citra lingkungan
kultural strategis dan eksistensial Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh
karenanya manfaat dari penelitian ini, bisa memberi inspirasi cara pola pikir
keestetikaan lingkungan dan memberi alternatif model pertimbangan dalam
penyusunan kebijakan pengelolaan estetika lingkungan perkotaan. Penelitian ini
dilakukan dalam format multidisiplin keilmuan, antara bidang desain arsitektur
lingkungan perkotaan dan bidang estetika filsafati; yang difokuskan pada bidang
arsitektur-kota dan bidang seni-rupa lingkungan, melalui proses studi
literatur, observasi visual lapangan, pengolahan data, analisis fenomenologis
citra kultural kota, diskusi dengan para nara-sumber terkait dan penyimpulan
atas praduga awal.
Penulis: FX Budiwidodo
Pangarso, Arief Sabarudin, Iwan Purnama, Roni Sugiarto, Gideon Suryanugraha,
Nityasa Swinareswari
Kode Jurnal: jptindustridd150303