TRADISI UPACARA BERSIH DESA SITUS PATIRTHĀN DEWI SRI DI DESA SIMBATAN WETAN, KECAMATAN NGUNTORONADI, KABUPATEN MAGETAN (KAJIAN TENTANG KESEJARAHAN DAN FUNGSI UPACARA)
Abstract: Berbicara mengenai
tradisi oleh masyarakat Indonesia, maka pelaksanaan upacara bersih desa di
situs patirthãn Dewi Sri menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikaji,
karena sampai zaman sekarang tradisi tersebut masih berlangsung dan diadakan
oleh warga masyarakat di Desa Simbatan Wetan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten
Magetan, Jawa Timur. Berdasarkan kesejarahannya, tidak diketahui secara pasti
kapan pertama kali kegiatan pelaksanaan tradisi bersih desa di situs patirthãn
Dewi Sri berlangsung dan diadakan oleh warga masyarakat di Desa Simbatan.
Melihat dari struktur bangunannya, patirthãn Dewi Sri merupakan bangunan pada
zaman klasik yang dianggap penting. Melihat kenyataan itu, maka tidak diketahui
secara pasti apakah pelaksanaan upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri
merupakan fungsi sejak zaman klasik yang masih bertahan hingga zaman sekarang
oleh masyarakat di Desa Simbatan.
Pada penelitian ini menggunakan metode sejarah, dimana peneliti akan
menerapkan prinsip-prinsip heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi
dalam meneliti kesejarahan pelaksanaan upacara besih desa dan perkembangan
fungsi upacara bersih desa di patirthãn Dewi Sri.
Hasil penelitian menunjukkan, upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi
Sri pertama kali diadakan oleh masyarakat di Desa Simbatan pada zaman klasik
akhir. Hal ini terbukti dari cerita tertua yang menghubungkan Dewi Sri terdapat
pada kitab Tantu Panggelaran yang berkembang sejak abad ke 15 – 16 Masehi.
Selanjutnya, upacara disempurnakan oleh masyarakat penganut agama Islam abad ke
15 Masehi dengan tetap memunculkan simbol Dewi Sri dalam pelaksanaanya.
Berdasarkan fungsinya patirthãn Dewi Sri zaman klasik digunakan untuk upacara
penghapusan noda dan dosa-dosa sehingga bersih jiwanya dan mencapai moksa atau
bisa kembali ke surga. Seiring berjalannya waktu, fungsi zaman klasik bangunan
patirthãn sebagai tempat dilaksanakannya upacara pembersihan noda dan dosa-dosa
serta sebagai pemujaan sudah mulai mengalami perubahan. Akan tetapi tidak
menjadikan ditinggalkan masyarakat zaman sekarang karena masih mengadakan
upacara bersih desa di situs patirthãn Dewi Sri.
Penulis: AGIL PUJO JATMIKO,
Yohanes Hanan Pamungkas
Kode Jurnal: jpsejarahdd160071