Pertumbuhan Rumput Pionir Ditanam secara Monokultur dan Polikultur melalui Hydroseeding di Tanah Pasca Penambangan Batubara dari Kalimantan Selatan
ABSTRAK: Tujuan dari penelitian ini yaitu
membandingkan perkecambahan biji
rumput pionir dan lokal di tanah kebun dan mulsa hydroseeding. Selain
itu, juga diamati pertumbuhan, kerapatan dan kerimbunan rumput lokal yang ditanam dengan
teknik hydroseeding secara
monokultur atau polikultur
pada tanah pasca penambangan batubara
dari Kalimantan Selatan.
Spesies pionir yang
digunakan antara lain Eleusine indica (L.), Paspalum conjugatum P. J.
Bergius, Sporobolus indicus (L.)
R. Br. dan
Eulalia amaura (Buese) Ohwi. Biji rumput sebanyak 32 ditanam pada tanah
kebun dan mulsa hydroseeding untuk mengamati
persentase dan waktu
perkecambahan. Selanjutnya, biji
empat spesies rumput
tersebut ditanam monokultur dan
polikultur pada mulsa di atas tanah
pasca pertambangan dengan ulangan tiga sampai lima.
Variabel yang diamati
waktu dan persentase
perkecambahan, kerapatan, panjang
daun maksimum, tinggi tanaman,
kerimbunan dan rasio
pertumbuhan panjang akar/tanaman
bagian atas. Data dianalisis
deskriptif dan uji
beda menggunakan one way
ANOVA, uji Brown Forsythe atau
uji-t, analisis cluster
serta biplot. Hasil
penelitian menunjukkan semua
rumput pionir yang
ditanam monokultur dapat berkecambah
pada tanah kebun
dan mulsa hydroseeding.
Sebaliknya, kecambah E. indica dan
E. amaura lebih sedikit pada
sistem polikultur. Persentase
perkecambahan biji ditanam pada tanah
kebun secara monokultur lebih tinggi dan waktu perkecambahan lebih cepat
dibandingkan dengan penanaman pada hydroseeding.
Hydroseeding secara monokultur
cenderung memiliki kerapatan
dan pertumbuhan lebih tinggi
dibandingkan polikultur. Akar
semua spesies rumput
berkembang di tanah pasca pertambangan berukuran lebih
panjang dibandingkan tanaman bagian atas.
Penulis: Amalia Fadhila Rahma,
Endang Arisoesilaningsih
Kode Jurnal: jpbiologidd150651